Sebuah Catatan Dini Hari


gambar

Akhir-akhir ini saya gemar sekali mengamati lingkungan sekitar dengan segala ragam di dalamnya. Termasuk sikap orang-orang di sekitar saya.

Beberapa waktu lalu, saya dibuat terkejut dengan sikap salah seorang yang saya kenal. Sebut saja A. Yang sebelumnya dia saya anggap orang yang santai dan suka bercanda, ternyata menyimpan kemampuan meluapkan amarah sedemikian rupa. Sesuatu yang menurut saya terlalu berlebihan untuk ditampakkan di depan orang banyak.

Sebelumnya, saya berpikir bahwa setiap orang memang punya karakter sendiri-sendiri. Namun makin ke sini, saya rasa apa yang dia lakukan sedikit tidak wajar. Saya sempat memperhatikan teman saya ini ketika bercanda. Sesuatu yang awalnya menyenangkan berubah menjadi amarah hanya karena dia merasa ditertawakan. Padahal bukan dia objeknya. Dia marah. Membentak-bentak. Dia menjadi orang yang menakutkan. Suasana hatinya berubah drastis. Yang sebelumnya gembira menjadi uring-uringan.

Saya dan teman-teman sempat mendiamkan hal ini, dan kemudian mungkin tersadar, Si A ini meminta maaf. Bahwa kemarahannya tidaklah disengaja. Saya rasa bukan begitu harusnya. Bukan begitu.

Satu hal yang tidak dia ketahui, bahwa: ketika dia sedang menyebalkan uring-uringan/moody, jangan pernah menyakiti orang lain lewat sikap maupun perkataan. Karena mereka tidak pernah tahu apa yang sedang terjadi di dalam dirinya. Dan teman-temannya bukanlah para ahli pembaca pikiran, yang senantiasa selalu tahu apa yang dia inginkan.

*dituliskan ketika menyadari ada beberapa orang yang kadar ingin dimengertinya terlalu tinggi, dan sekitarnya tidak mempunyai kemampuan untuk itu*

Gambar dari: vi.sualize.uz

Selamat Menyambut!


Sebagian besar dari diri saya amat senang ketika Ramadhan tiba. Sebagian lainnya merasa bahwa bulan-bulan seperti ini saya justru malah merasa sendirian. Saya kangen dengan suasana ramadhan beberapa tahun silam. Saat rumah masih lengkap dengan penghuni lainnya. Ayah dan Ibu.

 

Biasanya, di hari pertama ibu akan membuat masakan spesial. Baik ketika sahur maupun berbuka puasa. Menu-menu andalan dan favorit kami disajikan. Prosesi penyambutan katanya. 

 

Beberapa tahun berikutnya, rumah semakin sepi. Tinggal saya sebagai penghuni tunggal di rumah sepeninggal ayah dan ibu. Ramadhan menjadi sangat berbeda. Sahur sendirian terasa aneh bagi saya. Mengharuskan untuk menyiapkan segala sesuatunya sendiri. Dan bangun pada jam sahur begitu lalu langsung memasak memang agak berat. Cukup berat. Membeli makanan di luar pun akan tetap tidak sama. Yang saya kangeni adalah masakan rumahan. Masakan ibu.

 

Hingga minggu lalu saya bertekat untuk membuat salah satu ‘makanan instan’ favorit, karena bisa bertahan dalam jangka waktu yang lumayan dan praktis pula. Dan jadilah…

 

Gambar

sebutlah ini kering tempe. Stok makanan yang bisa langsung makan dengan nasi saja. Bisa dijadikan lauk atau camilan jika terpaksa. Sepertinya makanan ini akan menyelamatkan hari hari saya sebulan ini. Makanan ini juga berfungsi sebagai obat kangen masakan ibu. Rasa memang tidak bisa mirip sekali, tapi sudah cukup untuk mengenyangkan memori saya. Ibu akan menemani saya lewat ini.

 

 

Hei, bukankah kita tidak pernah benar-benar sendirian? 😀