Solo Trip #2: Kelimutu, Akhirnya!


Perjalanan pertama yang saya lakukan pada hari kedua di Ende adalah menuju ke Kelimutu. Menurut Encim, tidak bisa disebut ke Flores tanpa mengunjungi danau yang dulu sempat ada di mata uang pecahan 5000 itu.Mulanya saya berencana untuk menikmati matahari terbit namun faktor tubuh yang sudah lelah membuat saya tertidur pulas dan bangun terlambat, hasilnya saya mau tidak mau baru berangkat sekitar pukul 05.45 dengan diantar ojek langganan Encim yang bernama Neldis.

Kegiatan di pasar tradisional sudah mulai terlihat meskipun pagi itu terasa begitu dingin.

Pasar Tradisional
Pasar Tradisional

Matahari Terbit Sewaktu Menuju Kelimutu
Matahari Terbit Sewaktu Dalam Perjalanan

Perjalanan menuju Kelimutu cukup jauh. Jika benar-benar ingin melihat matahari terbit dan tidak ingin terlalu lelah di perjalanan, menginap di Moni (perkampungan terdekat dengan Kelimutu) bisa menjadi alternatif pilihan. Di sana tersedia banyak penginapan. Karena untuk menuju ke sana diperlukan kurang lebih 2 jam dengan kondisi jalanan berkelok. Semua itu tidak akan terasa kalau mata disuguhi dengan pemandangan hijau pepohonan serta persawahan yang dikelola warga setempat.

Persawahan menuju Kelimutu
Persawahan menuju Kelimutu

Setelah sekian puluh menit berkendara motor, pukul 8 kami (saya dan Neldis) sampai di pos penjagaan Taman Nasional Kelimutu yang sekaligus menjadi loket pembayaran untuk memasuki kawasan tersebut. Dua orang dan 1 motor hanya dikenakan 8000 rupiah. Amat sangat terjangkau.

Gerbang Menuju Kelimutu
Gerbang Menuju Kelimutu

Dari pos penjagaan, kami masih harus menempuh perjalanan untuk menuju danau. Di sepanjang jalan, banyak ditemui wisatawan yang berjalan kaki untuk menuju ke sana. Setelah sampai di area parkir, kami segera mendaki ke arah danau. Tenang saja, jalur pendakiannya tidak begitu susah. Sudah tersedia jalan setapak serta anak tangga sehingga tidak diperlukan tenaga ekstra. Rupanya sudah banyak orang yang turun dari atas danau.
Tampak Dari Bawah
Tampak Dari Bawah

Sekilas dari kejauhan
Sekilas dari kejauhan

Mendaki ratusan anak tangga
Mendaki ratusan anak tangga

Bila diperhatikan, beberapa orang yang mendaki menghitung jumlah anak tangganya. Entah dengan tujuan apa. Biar capek menaikinya tidak terasa mungkin. Karena ternyata cukup bikin kaki nyut-nyut. Hahaha. Tapi semua itu terbayarkan begitu sudah sampai di puncaknya. Rasanya ingin melompat saking senangnya melihat keindahan dan ketenangan sekitar danau. Ternyata di situ banyak monyet berkeliaran. Mereka tampaknya tidak terasa terganggu oleh kehadiran para wisatawan.

Monyet-monyet
Monyet-monyet

Beruntungnya saya bisa melihat keindahan danau hari itu, sebab beberapa waktu lalu Taman Nasional Kelimutu sempat ditutup untuk umum dikarenakan aktifitasnya yang mengalami peningkatan. Bahkan kabarnya salah satu kawah mengalami
perubahan warna.

Tiwu Nuwa Muri Koo Fai
Tiwu Nuwa Muri Koo Fai

Tiwu Ata Polo
Tiwu Ata Polo

Tiwu Ata Mbupu
Tiwu Ata Mbupu

Ada untungnya saya datang agak siang karena menurut penjaga setempat suasana ketika matahari terbit ramai sekali. Sedangkan saat itu (sekitar pukul 8 lewat), suasana lumayan sepi sehingga bisa menikmati ketenangan danau. Sepertinya ingin berlama-lama di atas sana.

View Point
View Point

Latar Belakang Danau
Latar Belakang Danau

*Dilanjut lagi pada postingan berikutnya

Iklan

Solo Trip #1 : ke Ende Mampir Denpasar


Jalur Perjalanan
Ide untuk pergi ke Ende sebenarnya sudah lama ada dalam kepala saya. Bahkan sejak pulang dari Ambon. Hingga beberapa bulan lalu saya meminta tolong seorang teman yang tinggal di sana untuk membuatkan itinerary. Tidak perlu menunggu lama, pesan melalui email pun saya dapat. Isinya tidak lain tentang rincian perjalanan untuk beberapa hari di Ende. Saya girang! Setelah membacanya, saya putuskan akan melakukan perjalanan ini dengan melalui Denpasar. Alasannya sederhana saja, karena relatif lebih murah jika dibanding langsung mengambil tiket Surabaya-Ende. Selain itu juga bisa ambil waktu sehari bersantai di Bali.

Tanggal 6 Agustus saya berangkat dari Stasiun Gubeng pukul 22.00 dengan menaiki kereta Mutiara Timur Malam. Yang menentukan nyaman tidaknya sebuah perjalanan dengan transportasi publik adalah orang yang duduk di kursi sebelah. Beruntunglah saya saat itu karena yang duduk di sebelah saya cukup berhasil membuat mata segar. Hahaha. Enam setengah jam adalah waktu yang lumayan lama, 04.30 saya sudah berada di stasiun Banyuwangi Baru. Di depan stasiun sudah terparkir bus Damri yang akan membawa penumpang tujuan Denpasar dengan menggunakan tiket terusan kereta. Sedangkan saya memilih untuk berjalan menuju pelabuhan Ketapang. Iya, cukup dengan berjalan kaki yang jaraknya kira-kira hanya 5 menit dari stasiun. Tiket seharga 6.500 sudah bisa menyeberangkan saya ke pelabuhan Gilimanuk. Berada di atas kapal penyeberangan sepagi itu rasanya seperti berada di atas kapal penyeberangan sepagi itu. 😀
Matahari pagi di atas Selat Bali

***

Jumat pagi saya pun berangkat ke Ende menggunakan pesawat yang dioperasikan Wings Air. Ini adalah pengalaman pertama saya naik pesawat berbaling-baling.

Gumpalan Awan Kapas

Bandara Labuan Bajo

Bukan. Labuan Bajo bukan tujuan utama saya kali ini. Pesawat berhenti untuk menurunkan dan mengangkut penumpang dari bandara Labuan Bajo. Hal ini cukup membuat miris. Sudah dekat tapi tidak bisa menjelajah.

14.20 saya sudah tiba di bandar udara H. Hasan Aroeboesman, Ende. Disambut dengan pemandangan gunung Meja dari kejauhan. Sesaat kemudian saya menghubungi Encim untuk mengabari kalau saya sudah sampai. Tidak ada jawaban. Dari pintu ruang tunggu bandara sudah berjajar para penyedia jasa antar. Tidak sekali atau dua kali mereka menawari saya. Berkali-kali. Saya tidak goyah. Haha.

Ternyata bandara akan segera mengakhiri jam operasionalnya, mengingat kedatangan terakhir sudah habis meskipun baru pukul 15.00. Saya pun bergeser keluar ruang tunggu dan pindah lokasi di pos polisi terdekat. Tak lama dari itu Encim menelepon dan akan segera menjemput. Jalanan Ende mengingatkan saya akan Malang.

Hari itu saya resmi menginap di rumah Encim, disambut kehangatan orang di rumahnya, dan bisa merasakan suasana berlebaran di kota–sekaligus rumah–orang. Suasana baru, dimana berlebaran tidak hanya dirayakan oleh beberapa pihak. Seolah semua orang di satu kota merayakannya. Sangat menyenangkan. 😀

Suasana lebaran di salah satu rumah anggota FC

*Foto lebaran dokumentasi Flobamorata
**Dilanjut pada posting berikutnya

Selamat Menyambut!


Sebagian besar dari diri saya amat senang ketika Ramadhan tiba. Sebagian lainnya merasa bahwa bulan-bulan seperti ini saya justru malah merasa sendirian. Saya kangen dengan suasana ramadhan beberapa tahun silam. Saat rumah masih lengkap dengan penghuni lainnya. Ayah dan Ibu.

 

Biasanya, di hari pertama ibu akan membuat masakan spesial. Baik ketika sahur maupun berbuka puasa. Menu-menu andalan dan favorit kami disajikan. Prosesi penyambutan katanya. 

 

Beberapa tahun berikutnya, rumah semakin sepi. Tinggal saya sebagai penghuni tunggal di rumah sepeninggal ayah dan ibu. Ramadhan menjadi sangat berbeda. Sahur sendirian terasa aneh bagi saya. Mengharuskan untuk menyiapkan segala sesuatunya sendiri. Dan bangun pada jam sahur begitu lalu langsung memasak memang agak berat. Cukup berat. Membeli makanan di luar pun akan tetap tidak sama. Yang saya kangeni adalah masakan rumahan. Masakan ibu.

 

Hingga minggu lalu saya bertekat untuk membuat salah satu ‘makanan instan’ favorit, karena bisa bertahan dalam jangka waktu yang lumayan dan praktis pula. Dan jadilah…

 

Gambar

sebutlah ini kering tempe. Stok makanan yang bisa langsung makan dengan nasi saja. Bisa dijadikan lauk atau camilan jika terpaksa. Sepertinya makanan ini akan menyelamatkan hari hari saya sebulan ini. Makanan ini juga berfungsi sebagai obat kangen masakan ibu. Rasa memang tidak bisa mirip sekali, tapi sudah cukup untuk mengenyangkan memori saya. Ibu akan menemani saya lewat ini.

 

 

Hei, bukankah kita tidak pernah benar-benar sendirian? 😀

 

 

 

Europe on Screen 2013 Surabaya


Yeay! 4 film selama 2 hari telah selesai dipertontonkan di Institut Francais Indonesia (IFI) Surabaya. Antusiame penonton terlihat dari penuhnya kursi yang disediakan oleh panitia. Bahkan disediakan bangku tambahan untuk penonton yang tidak mendapat jatah kursi.

Film-film yang diputar di IFI hanyalah 4 judul. Memang tak sebanyak kota lain apalagi Jakarta.
Antara lain:

image
Nicky's Family
image
Christmas Tango

image

image
You Never Walk Alone

Bagi saya yang baru pertama mengikuti rangkaian pemutaran film di Europe on Screen, sangat menarik! Mengingat jarang sekali bahkan sulit untuk bisa menonton film-film Eropa yang memang tidak diputar di bioskop dalam negeri. Untuk tahun depan semoga lebih banyak film yang diputar di Surabaya. 🙂


anggara mahendra

anggaramahendra_The charm of a rustic travelling carnival 3Its Ferris wheel and carousel look rustic with faded colors and peeled paint. The ball pit’s condition is a far cry from the one city dwellers usually see at similar facilities in Denpasar’s shiniest supermarkets. And the whole carnival is set on a plot of vacant land where the ground would get muddy after even a light shower of rain. These days, torrential rain hits the area on a daily basis.

Lihat pos aslinya 229 kata lagi