Saya Menyebutnya Kenangan


Ada yang pernah berkata jika masa lalu tidak menjabarkan diri kita, akan tetapi masa lalu akan selalu menjadi bagian dari diri kita. Sesuatu yang akan melekat dalam diri kita; baik sekarang dan juga di masa yang akan datang. Entah bagian terburuk atau terbaik sekalipun.

memories

Banyak hal yang terjadi, kesalahan, kegagalan, dan seringkali saya merasa sakit meskipun tak jarang orang lain saya sakiti. Ketika mengingatnya, saya sedikit menyalahkan diri sendiri untuk orang-orang yang “pergi” dari kehidupan saya. Ada penyesalan. Padahal, bisa jadi hal itu bukan murni kesalahan saya, melainkan karena memang sudah waktunya untuk mereka “pergi” dan “datang” pada kehidupan orang lainnya. Lambat laun saya mempercayai proses itu.

Untuk hal-hal yang telah terjadi tersebut, saya tidak seharusnya terus merenunginya. Berandai-andai jika saja saya bisa kembali memutar waktu dan memperbaiki apa-apa yang ada di masa lalu, toh semuanya sudah terjadi dan sudah berhenti. Tetapi bukankah hidup harus tetap berjalan. Meskipun butuh waktu untuk saya belajar dan berproses atas yang telah saya lakukan sebelumnya. Bisa berbulan-bulan, bahkan tahunan. Saya terus mencoba berdamai. Menerima apa yang sudah seharusnya.

Dan pada akhirnya, kenanganlah yang membentuk saya sekarang. Pembelajaran dari yang baik maupun yang buruk. Dari orang-orang yang menyayangi dan menyakiti kita di waktu yang lalu. Cukup sebagai sarana berproses. Tanpa perlu melupakannya. Karena hal tersebut akan tetap bersama saya sampai beberapa tahun kedepan.

Gambar dari: vi.sualize.uz

Semacam Kilas Balik 2012


Awal tahun 2012 dimulai dengan cerita yang penuh haru. Melihat ibu yang terbaring dengan berbagai peralatan medis dipasang di tubuhnya, hingga napas terakhir dihembuskan. Dan barikutnya menjadi tahun pertama hidup sendiri.
Kemudian, ditambah dengan status yang berubah menjadi ‘tanpa pacar’ pada bulan yang sama pula. Januari. Sungguh kombinasi yang ‘sempurna’ untuk menyerah. Tapi tidak, untungnya yang terjadi justru sebaliknya. Tak ada niatan berhenti atau bahkan mundur selangkah. Semua berkat orang-orang sekitar yang menyemangati–bukan Mario Teguh-terus. Hingga saya berada pada fase yang sekarang.

***

Januari juga berarti memulai sesuatu dengan baru. Salah satunya tempat kerja. Memang, ini sangat jauh berbeda dengan pekerjaan sebelumnya yang lebih sering berteman dengan pisau, chiller, dan beberapa alat dapur. Saya harus membiasakan diri duduk di belakang layar, mengurusi hal-hal yang sebenarnya saya tidak mengerti. Pembelajaran beberapa bulan menjadikan saya lebih bisa mengendalikan semua tugas-tugas saya sampai saat ini.

***

Setelah berbagai kesedihan pada awal bulan, selanjutnya saya seakan selalu punya kesempatan berbahagia dengan segala sesuatu yang menyenangkan. Menikmati ‘kelahiran’ baru saya.

SEMACAM PLESIRAN

Dimulai dari mengikuti kelas menulis yang diadakan oleh Sastra Madiun pada bulan Februari. Bertemu dengan orang-orang baru, diskusi, dan berbagi bersama beberapa penulis kenamaan.

image
Di Madiun

Bulan berikutnya saya kembali ikut acara di luar kota. Tepatnya di Jogja. Sebuah acara yang diadakan oleh teman-teman sana dengan tema โ€œGuyub Desaโ€ yang berlokasi di desa Gabugan, Sleman, Jogjakarta. Letaknya di bawah kaki gunung Merapi, yang merupakan desa wisata serta dekat dengan Agro Wisata Salak. Di sana, menginap di rumah-rumah warga setempat yang memang difungsikan untuk homestay.
image

Pertengahan tahun, saya akhirnya berkesempatan mengunjungi Solo. Setelah sekian lama hanya bisa melewatinya tanpa singgah. Dengan diteman beberapa teman di Solo, saya menyempatkan diri berkeliling kota dan beberapa obyek wisata. Serta menikmati kuliner khas Solo.
image

Nah, puncaknya ialah plesiran saya ke Maluku. Sebentar memang di sana, dan rasanya sangat kurang puas menjelajahinya. Dan akan berniat ke sana lagi suatu saat nanti.
image

Plesiran terakhir ialah ke Tanjung Papuma, Jember. Menikmati keindahan pantai serta batuan karang dengan berbagai macam ukuran.
image

MENONTON GIGS

Awal tahun sudah disambut dengan gig ERK di sebuah universitas Surabaya. Sebuah gig yang untuk ke lokasinya perlu perjuangan. Berteduh dari hujan angin, dikeroyok semut dan kecoa di tempat berteduh, hingga harus menyaksikan romantisme beberapa pasangan di bawah payung yang melindungi mereka dari gerimis. Hahahaha.
Meskipun ERK tampil dengan formasi tidak lengkap, namun penampilan mereka saat itu sangat memukau. Membuat lokasi mendadak jadi tempat karaoke berjamaah. Semua ikut menyanyikan semua lagu yang mereka bawakan saat itu.
image

Dua kali menonton Tompi dalam setahun. Pertama sampai harus ke Malang, dalam sebuah acara yang diselenggarakan universitas setempat. Kedua, dalam Urban Jazz Crossover bersama beberapa penyanyi dan musisi Jazz lainnya seperti Barry Likumahuwa, Harvey Malaiholo, Andien, Rieka Roslan, dll.

image
Penampilan Tompi di Malang

image
Urban Jazz Crossover

Menonton L’alphalpha, Pornikebana, serta Stars and Rabbit dalam panggung yang sama di Sunday Market Surabaya itu seru!
image

Dan penutup tahun yang oke oleh gig Adhitia Sofyan. Menjadi istimewa karena sempat mengobrol di warung makan serta foto dan dapat bonus tanda tangan setelah perjuangan untuk.ketemu. :))

Eh bahkan bertemu drummer-nya The Trees and The Wild, Inu di lolasi yang sama. ๐Ÿ™‚

Setelah melewati 2012 dengan berbagai cerita sedih hingga paling bahagia, semoga 2013 membawa banyak warna lagi. Terima kasih pada semua yang membantu saya berproses setahun ini. ๐Ÿ˜€

[31.12.12; 00:49]

*beberapa foto koleksi pribadi
**foto Guyub Desa koleksi Ade Julizar dan Asakecil
***foto Maluku koleksi Indam

Duakosong Duabelas Duakosongduabelas


Duakosong duabelas duakosongduabelas. Saya yang bangun lebih pagi setelah melewati malam jahanam di tempat kerja.

Duakosong duabelas duakosongduabelas. Siang yang tak lagi sama. Kembali bisa menikmati jajanan yang membuat senyum saya naik level.

Duakosong duabelas duakosongduabelas. Sore dengan mendung tanpa hujan. Secangkir kopi dingin serta krim di atasnya. Lalu sesuatu berlarian dalam kepala.

Duakosong duabelas duakosongduabelas. Malam dan menunggu kembali saya perankan. Sebuah tulisan seseorang tentang ibunya yang membuat mata basah. Adegan ditelepon ibu untuk sekedar mengingingatkan anaknya sedang dimainkan dalam kepala saya.

Duakosong duabelas duakosongduabelas. Bulan berpindah ke dalam secangkir kopi yang masih panas. Kecemasan yang berlebih, tawa yang lepas atau dibuat-buat. Orang-orang yang ramai membicarakan ramalan kiamat esok hari. Entahlah.

Duakosong duabelas duakosongduabelas. Angkot penuh sesak, wajah-wajah kelelahan. Tujuan yang sama: rumah.

Duakosong duabelas duakosongduabelas. Teringat batas waktu yang tinggal 4 hari lagi dan saya yang belum memulai apapun.

Duakosong duabelas duakosongduabelas. Waktu yang terus berjalan, dan konon akan berlari jika sedang bersama orang yang disayangi.

Duakosong duabelas duakosongduabelas. Saya yang sangat merindukan rumah.

[20.12.2012; 23:45]

Sebuah Catatan Perjalanan


Tidak ada rencana pasti hari itu akan pergi ke mana sesampainya di Malang. Segala sesuatunya berlangsung sesuai kondisi saat itu. Termasuk ketika seorang teman mengajak saya untuk singgah di sebuah tempat makan yang belum pernah saya kunjungi.

Di situ, kami berbagi banyak hal. Termasuk berbagi tawa atas beberapa kebodohan yang pernah kami lakukan. Haha

image
Pot pot yang dipajang di bagian teras

***

Nama tempat itu adalah “Noodle Inc.”

image
Noodle Inc

image

Tempat makan bergaya warehouse ini terdiri atas dua lantai. Di lantai bawah, saya merasakan sekali gaya “gudang”-nya. Namun masih tetap nyaman dijadikan tempat makan sekaligus tongkrongan.
image
image

Kami memilih untuk naik ke lantai atas. Dan kami langsung disambut dengan sepeda kayuh yang dipajang di dinding tepat di atas tangga.
image

Akan lebih asik jika memilih tempat duduk di bagian luar ruangan. Selain pandangan langsung tertuju pada jalanan, sudutnya juga nyaman. Berbincang bersama teman akan terasa jauh lebih seru.

image
Bagian luar

Berhubung di bagian luar sudah penuh, kami cukup di bagian dalam saja. ๐Ÿ™‚

image
Bagian dalam

Mengingat sudah mendekati Natal, tempat ini pun dihiasi berbagai ornamen natal. Seperti yang terlihat di atas.

***

Dari namanya, sudah jelas sekali bahwa tempat ini menawarkan menu “Mie dan Dimsum”. Beberapa olahan mie mulai dari yang berkuah dan non kuah. Pilihan untuk dimsum-nya pun cukup banyak–meskipun tidak begitu banyak menu favorit saya–dan lumayan menggiurkan.

image
Sushi Crab dan Hakau Udang menjadi pilihan kami saat itu. Ditemani hot dark chocolate–yang dipilih Pipo–serta saya yang lebih menyukai cold dark chocolate. Kurang lengkap jika ke sini kalau tidak mencoba menu mie. Dan mie tarik ayam menjadi pilihan saya. Dengan kuah segar dan pedas–tersedia juga pilihan tidak pedas–mampu membuat mata melek. Mie-nya lembut serta disajikan lengkap dengan sayuran serta potongan daging ayam. Untuk ukuran tempat makan sejenis ini, harga yang mereka tawarkan relatif terjangkau. Tak heran jika tempat ini ramai pelanggan.

image
image

Untuk pelayanan ehem tidak terlalu mengecewakan, tak perlu menunggu lama pesanan diantarkan. Bagi yang menginginkan tempat makan dengan suasana berbeda, di sinilah tempatnya.

image
Selintas

[18.12.12; 02:55]

*Noodle Inc. terletak di Jl. Soekarno Hatta DR 1-2 Malang. Jam buka 11.00-24.00

**terima kasih pada Pipo yang sudah mengenalkan saya dengan tempat ini.

Pada Suatu Waktu


image

Apa yang kamu ketahui tentang bagaimana kamu menempatkan kegembiraan, semangat, dan kecemasan dalam satu waktu sekaligus?

Apa yang kamu ketahui tentang jalanan basah seusai hujan dan secangkir kopi yang membuat seseorang tak pernah merasa bosan berada dalam kondisi tertentu?

Apa yang kamu ketahui tentang kegembiraan saat bertemu atau bahkan kekecewaan atas sesuatu yang tak pernah muncul?

Apa yang kamu ketahui tentang menunggu?

[16.12.12; 16.50]

Minggu-Ragu


Sinar matahari yang menerobos dari kaca jendela, aroma teh hangat, dan suasana halaman samping rumah yang sejuk. Sungguh merupakan kombinasi asik pada hari Minggu. Bukan. Ini bukan kombinasi hari Minggu saya. Yang terjadi ialah kombinasi antara bangun siang, teh kemasan yang dingin, dan pikiran yang semrawut. Jangan menebak ini semrawut karena kepikiran kisah cinta. Jangan. Karena pasti salah. Hahaha.

Beberapa hari belakangan saya sudah merancang untuk melakukan plesiran lagi. Satu tempat bersuasana tenang dan cukup terpencil sudah saya pilih sebagai destinasi berikutnya. Akses untuk menuju ke tempat itu pun sudah saya dapatkan infonya dari beberapa teman. Tanggal berangkat saya tentukan. Hanya tinggal memesan tiket pergi pulang dan menunggu hari H saja.

Hingga…

Kemarin seorang teman menanyakan lagi niat saya pergi ke tempat itu. Memastikam dengan siapa saya akan ke sana. Lalu responnya cukup membuat saya ragu sampai sekarang begitu saya memberitahukan bahwa saya akan ke tempat itu sendirian. Iya, sendirian. Dia kemudian memberikan serentetan penjelasan resiko jika bepergian ke sana sendirian. Mulai dari yang awalnya membuat saya merasa masih mampu sampai pada akhirnya membuat saya berpikir ulang untuk ke lokasi tersebut.

Lalu..

Pagi tadi seorang teman yang lain pun memberitahukan keadaan di sana-yang membuat saya makin ragu-seperti apa.

Yang mereka hawatirkan adalah saya yang perempuan dan pergi sendirian. Mulanya saya pikir tak akan jadi masalah. Tetapi, saya kemudian berpikir untuk mencari tempat yang sedikit bersahabat. Saya takut jika nanti malah diculik dan dipaksa kembali ke masa lalu. Saya tidak siap. Haha. Atau saya sebaiknya mencari teman seperjalanan saja, agar perjalan tetap terlaksana, dan sedikit aman. Tapi siapa? Persoalan baru lagi kalau begini.

Jadi, di mana tempat yang tak terlalu beresiko bagi orang yang ingin melakukan perjalan sendiri?

Posted from WordPress for Android

Hari Kesekian Bulan Oktober


Senin pagi. Terbangun dan pandangan langsung saya arahkan ke jam dinding. Pukul 05.45. Menyadari bahwa untuk ukuran Senin, saya sudah kesiangan. Menyadari masih pusing dan tak enak badan. Demam dari semalam belum juga hilang. Bimbang apakah saya harus segera beranjak dari tempat tidur atau justru kembali berselimut tanpa tahu kapan harus bangun. Kemudian saya meraih ponsel dan mengetik beberapa kalimat izin tidak masuk kerja pada atasan. Beberapa menit kemudian kalimat “semoga cepat sembuh” dari beliau saya terima.

Hari kesekian bulan Oktober. Sama dengan hari-hari sebelumnya. Malah saya kategorikan termasuk minggu tenang. Tak ada daftar libur luar kota, hanya di rumah dan menikmati minggu dengan istirahat. Hingga demam mampir.

Mungkin ini bentuk protes tubuh saya yang selama ini dipaksa untuk berlelah-lelah. Kerja 6 hari, akhir pekan saya buat pergi ke luar kota. 3 minggu berturut-turut seperti itu. Bahkan minggu lalu sempat kehujanan dan pulang malam dari kota sebelah. Dan semua itu terakumulasi sekarang. Baru dirasakan sakitnya. Padahal saya sudah berencana untuk ke Jogja akhir pekan ini. Haha.

Sepertinya saya harus mulai menyusun skala prioritas. Berusaha untuk disiplin dan tegas pada diri sendiri. Tujuannya tak lain agar tidak pontang panting dan hidup lebih teratur. Hey itu sudah saya rencanakan sejak awal tahun. Namun praktiknya tetap saja keluar dari tujuan awal. Tapi tidak ada salahnya untuk dicoba lagi, dengan niat yang lebih keras dari sebelumnya. Bukankah ini juga untuk diri saya sendiri? Kalau sudah sakit begini lantaran ketidak teraturan yang saya buat, saya juga yang merasa kebingungan.

Sudahlah, mari lanjutkan istirahat saja.

Posted from WordPress for Android