Ke dalam Matamu


: Andi Wirambara

Ke dalam pekat matamulah malam mengendap
menjadi sesuatu yang tak mampu digambarkan oleh waktu; terlalu lama ia menunggu
guguran bintangbintang itu.

Telah kau jadikan air mata sebagai pintu dan jendela
tempat kau melepas rindu
satu satu

Surabaya 2011

Iklan

Kau Sebut Apa


: Bair

Kausebut apa gemuruh di laut dadamu
yang lebih menyerupai ombak bergulung-gulung; di keluasannya terdapat karang retak

Kau sebut apa
genang di pelupukmu
yang tampak seperti kolam; di kedalamannya terlalu banyak misteri tersimpan.

Kau sebut apa rasa kehilangan
yang di antaranya terselip sebuah keinginan; mendekap dia yang jauh dan tak terjangkau itu.

Itukah yang kau sebut cemburu?

Surabaya 2011

Jarak


: Mumu

Tak ada yang mampu difahami dari jarak dan guguran waktu.
Yang mengekalkan dingin angin yang sebentar singgah.

Tak ada yang mampu direkareka dari suara di ujung telepon.
Yang tibatiba mampu membungkam segala riuh menjadi bisu.
Merintikkan bening embun dari mata itu.

Surabaya 2011

Sebuah Usia


: DA

Di dinding itu kalender berpesta.
365 hari ia menunggu waktu mencatat genap usia; seperti katakata yang menanti kau sajakkan.

Di Juni ke dua puluh, telah kau torehkan segala riwayat pada sang waktu; yang barangkali lebih berharga dari sebuah hikayat.

Maka, tetaplah melaju, Kau; Sang Penyair.
Agar waktu tak berubah mengabu siasia dan sisakan hampa di ujung usia.

Surabaya 2011

*untuk seorang penyair

Monolog Embun dan Sesuatu yang Diintipnya di Balik Daun


/1/
Aku mengenalmu dari hening tempat pucuk-pucuk daun mengintip matahari, dan dahan menyala oleh keterbatasan–pun kerapuhan kala dipijaki burung-burung yang senandungkan kesunyian.
Dari tempatku, aku membaca gerakmu seperti penari berkostum hijau yang digerakkan angin. Sedang aku menunggu permainan waktu. Untukku menguap lesap dan tak bersisa atau menghempas cadas di bebatuan.
Lalu manakah dari lihatanku yang mendusta hening yang ada?

/2/
Aku mencoba membaca gerakmu perlahan, seperti kaki kumbang yang hendak mengukirkan senyuman di tanah basah. Seperti kenangan, seolah kerinduan. Sebab sebagai embun, tak ada lagi yang bisa kuberikan padamu selain sejuk tubuhku. Mungkin kau akan menyeka, mengusap, atau mungkin menegukku. Namun telah kurebah segala ingin, segala kelu dingin atas segala wangi pepucuk daun.
Aku menanti bagaimana kau memelukku. Yang embun ini.

/3/
Rupanya sisa mimpi masih kuat melekat. Meski dingin berkali-kali menampar. Kini kulihat kau sedang menari bersama kupu-kupu yang indah mengepak sayap. Lalu, di sini lahan disulap menjadi panggung romansa. Kau dan dia menari, biji-biji dandelion menjadi pengiring. Semesta kalian berpesta.
Jika bisa, aku ingin menjadi hujan, melubangi sayap kupu-kupu yang lentikkan senyuman. Tapi aku takut kian tak bisa merengkuhmu, kau akan berteduh di bawah sayap kupu yang menawarkan teduh. Dan aku ingin menyentuhmu saja, sesaat, lalu pecah. Menempias pada batu, pada tanah, tidak padamu. Semestaku pun hancur.

/4/
Jika saja kupu-kupu itu aku, dengan segala pesona mampu memunculkan simpul senyum di wajahmu. Sekalipun gigil pagi menyelimutimu. Tapi tidak! Aku tak mau jika harus bermetamorfosa menjadi ulat nantinya. Menggerogotimu perlahan, untuk mempertahankan diriku sendiri.
Maka kuberikan siluet keheningan di pantulan telaga yang muncul dari setitik air mataku. Ah, embun berairmata, bisakah kau bayangkan betapa beningnya itu?
Di beningnya terselip segala haru, berhimpit sesak, mengoyak jerih. Semua terangkum dalam diri rapuhku. Kau tahu?

/5/
Kini kurapalkan sesuatu untukmu. Pada salam sisi rerumputan, dan asa yang mengapung di muka telaga. Kukatakan aku akan tetap di sini. Sebagai embun terakhir yang akan menguap. Embun terakhir yang akan tetap membaca gerakmu perlahan-lahan. Embun yang mencintaimu diam-diam.
Sebelum akhirnya pecah dan menguap di udara.
Hingga bergeraklah awan-awan yang seolah didayungi oleh waktu yang menaungi harapan. Menuju siang paling sepi, senja paling repih dan malam yang paling kelu. Mengutuki ketabahan. Untuk menemuimu kembali pada pagi yang lain. Hingga aku dapat kembali memandangmu, merekam gerakmu, mendesahkan asa pada pagi yang gamang, lalu bernostalgia aku dengan kisah kita yang tak pernah ada.

Demikianlah suatu kecupan yang tak pernah kau tahu, di pipimu yang enggan dilekati setitikpun aku. Sebagai embun, sebagai tetesan kesunyian di pohonpohon rimbun.

***

Malang – Padang Tegal, 02 Juni 2011
Andi Wirambara – Nova Ridha A.

*sebuah kolaborasi saya bersama @baracoedaz * 🙂

Romansa Sepiring Mie di Atas Panggung Kedipan Mata


Sesuatu menjadi kelambu di panggung mata kita. Di atasnya, kita duduk berhadapan di sebuah meja bundar. Seperti bola matamu.
Sepiring mie instan kau seduh dari air mata hangatmu. “Ini bukan kesedihan, namun sebentuk rindu yang menggenang.” Senyumku membalas.
Sesuatu menggetarkan panggung kita. Meja kita. Perlahan merubah bentuknya menjadi sekoci dan sepiring mie kita masih utuh di situ. Telah lunak mie di piring kita itu. Kau mengambil garpu, aku mengambil serbet hati dan mengalungkannya di lehermu. “Agar kau tak kotor.”
Sekoci kita terombang-ambing. Pelan. “Tak ada laut di sini.” Katamu heran. “Itu rindu kita, yang mengombak lembut. Pun syahdu.
Sehelai mie kau angkat sambil menatapku. “Panjang, seperti milikmu.” Aku terkekeh. “Ini maksudmu?” Aku mencabuti bulu mataku.
Bulu mataku memanjang bak tongkat kera sakti yang melegenda ini. Ah,kisah kita akan lebih berhikayat, bukan?
Kau masih mengangkat mie itu. Bulu mataku berubah jadi syal. Kita mengambil ujungnya. Saling melilitkannya. “Kau siap untuk kusuap?”
Bulan muncul. Di sana sepasang bayang memantul. Sesendok–ah, segarpu–mie itu kau suapkan ke mulutku. Aku menyuapimu kehangatan.
Sekoci kita mendadak tenang, lalu hilang. “Apa rindumu hilang?” tanyamu. “Tidak, bukankah laut kadang suka menyimpan gelombangnya?” Sekoci kita memang hilang. Namun kita tidak tenggelam. Kita memijak panggung. Kita melihat diri. Ah, kita kembali ke matamu.
Sehentak nada mengalun di celah-celah telinga. Katamu mulai mengikuti nada. Masih dengan sepiring mie di kedua telapak tangan. “Apakah ada yang lebih indah daripada panggung matamu?” tanyaku. Kau menggeleng kembali menyuapiku segarpu mie dari piringmu itu. Kau menyiratkan kode dengan matamu. Memintaku untuk gantian menyuapimu.
“Sesendok mie, atau nadiku yang mendenyutimu tiap waktu?” godaku.
Kau memilih mie. “Aku tak mau nadimu. Sebab kau tak bisa bedakan mana nadimu, mana nadiku. Hati kita membuat simpul di antaranya.”
Mie itu tinggal sedikit, kau menggulungnya lembut seperti menggulung waktu yang sempat menjarak kita. Sebuah rindu membulat. Jadi telur.
Kita adalah romansa di atas panggung matamu. Aku masuk dengan setiket rindu. Kau menyambutku dengan sepiring mie. Sepiring senyuman.
Dan tak terasa mie itu telah habis. “Apa kisah kita pun habis?” tanyamu. Aku menggeleng. Mie itu berdiam di lambung. Lambung hati kita. Kita tak akan sakit. Yang kita makan akan menjadi sesuatu yang berbaur dalam darah. Serupa kenangan yang lekat di ingatan.
Piring telah kosong. Kita bertatapan dengan noda mie di sisi bibir. “Boleh kuseka?” tanyamu. Dan kau menyeka masa laluku.
Kita kembali ke panggung matamu. Sepiring rindu, seseka masa lalu. Kita berdansa di matamu. Di matamu.

Oleh: Andi Wirambara

*sebuah karya manis yang ditulis oleh BARA

**Terima kasih atas tulisan manis ini, partner pecinta mie 😀

Di Sudut Rak Berdebu


Kita hanya sepotong kisah kecil yang terjebak dalam lembarlembar usang buku di sudut rak penuh debu.
Rangkai kata tak lagi menarik untuk dieja. Atau sekedar dipandang.
Tak ada lagi alur cerita yang mampu menerbitkan mentari di sudut mata seperti dulu.

Barangkali segala sunyi cukuplah menjadi teman perbincangan yang tak mampu lebih sunyi lagi.

Kita samasama enggan mengabarkan cerita masingmasing, meskipun kita samasama tak yakin cerita itu pernah benarbenar ada.

Barangkali kita tak benarbenar saling berkisah. Tentang masa depanmu dan masa laluku.
Hingga gelap seakan bahagia kala takdir tak merelakan kita membuat jembatan di antara itu semua.

Kita kini tak lebih dari cerita yang terperangkap dalam usang buku dan koyak halaman.

Padang Tegal 2011