#31 Kepada Dirimu


Dirimu yang serupa malaikat tanpa sayap terbentang:
Kepadamu, kugenapkan separuh hatiku.
Kubaringkan mimpi masa depan bersamamu lewat barisan di tiap doa malamku.

Kepadamu, yang mengisi cawan rinduku.
Kutitipkan denyut pada alir nadi hidupmu.
Membagi pandang lewat satu kaca mata cinta.
Membangun bahagia pada semesta jiwa.

Iklan

#30 Dan Seketika


Baru saja kutulis dirimu pada tingkap-tingkap langit membiru.
Belum juga usai kusemai rindu.
Namun kini ku harus menuliskan haru.
Mensenyapkan segala riuh menderu.
Seperti melenyapkan letup di tiap degup.
Menggelapkan pandang akan ribuan mimpi.
Lalu: angin menerbangkan guguran bulu mataku bersama bebulir air mata di persimpangan antara senja dan malam.

#28 Puing Kenangan


Aku melukis sketsa dirimu seperti aku melukis puing-puing kenang lewat air mata yang berserak di sepanjang jalan itu. Membayangkan sentuhmu adalah serupa tamparan bagiku.
Tatap matamu adalah tikaman sembilu tepat mengenai ulu.
Cintamu yang terang kini pun terjelagakan oleh waktu.
Terpurukku sendiri dalam pilu.

#27 Tahun Ke Sekian


Ini adalah tahun ke sekian aku sendiri.
Menanti datangnya kekasih hati.

Ini adalah tahun ke sekian aku tenggelam bersama senja.
Menikmati semburat jingganya.
Sejingga asmara kita.

Ini adalah tahun ke sekian aku menikmati rindu dalam secangkir kopi.
Bayangmu hadir di kepulnya, temaniku dalam sepi.

Ah, sayang di tahun ke berapakah kita akan melunaskan dan memporak-porandakan gunung rindu?

#26 Labang Terakhir


Gerimis mengendap bersama sisa tawa di selasar jalanan.
Bias wajahmu menyisa di genangan air hujan.
Mengingatkanku pada binar matamu yang menawan.
Di sana kutemukan ngarai penuh damai dengan tarian rama-rama dan cericit burung melagukan keindahan.

Cahaya bulan membusur bersama siluet gerimis di bentang cakrawala.
Sedang kunang-kunang berpendarang di gelap ujung jalan.
Malam pun terkeriap perlahan.
Dan aku berusaha memandangi satu-satu jejak yang telah kupijak.
Di sana terlukis segala yang telah terlalui.
Harapan,mimpi,angan,luka,bahagia,kau.
Seketika lelah berat membeban.

Mungkin inilah labang terakhirku. Kini saatnya aku pulang menuju kembali ke hatimu. Satu.