Suatu Siang di Cheese Bury Kopitiam


Lama sekali rasanya saya tidak ke Malang. Meskipun ke sana hanya untuk sekedar mengopi atau makan sambil ngobrol ngalor ngidul dengan Pipoy. Ialah Cheese Bury, tempat yang saya tuju dengan Pipoy siang itu.

Bertempat di jalan yang tidak terlalu bising, membuat suasananya cukup mendukung bagi orang-orang yang memang datang untuk mengobrol. Pintu masuknya bernuansa Bali. Banyak detail ukiran. Ternyata tidak hanya sebatas pintu masuknya yang khas Bali, bagian dalamnya pun. Sejenak memang seperti tidak berada di Malang. πŸ™‚

LOKASI 2
LOKASI 1
KAYU

Karena saya tidak begitu lapar saat itu, pilihan saya jatuh pada menu Lava Cake. Sedangkan untuk minumnya, saya lebih tertarik dengan Red Velvet Frappuccino.
MENU 4
Dari tampilannya di buku menu memang menggoda lidah untuk mencicipinya. Dan ternyata memang enak. Milky creamy di mulut. Hanya saja mungkin karena saat itu saya memadukannya dengan Lava Cake–yang mana fillingnya cokelat–jadilah rasa milky creamy keduanya terasa sekali.

Lava Cake
Lava Cake

Voila! Cokelat Lavanya
Voila! Cokelat Lavanya

Si Red Velvet Frappuccino
Si Red Velvet Frappuccino

Lain saya, lain pula dengan Pipoy. Dia memilih makanan yang sedikit lebih berat. Pasta.

Fettucini Cheesebury Bolognaise
Fettucini Cheesebury Bolognaise

Yup! Fettucini Cheesebury Bolognaise dan juga minuman yang saya sendiri lupa namanya. Hahaha.
Si Pasta
Si Pasta

Awalnya saya mengira menunya salah, tapi setelah dibuka taburan kejunya, memang betulan itu pasta yang dipesan. Kejunya melimpah ruah! Bagi yang doyan keju, sepertinya menu ini akan cocok sekali. πŸ˜€
Yang sebelah kanan adalah minuman yang saya tidak tahu namanya :))
Yang sebelah kanan adalah minuman yang saya tidak tahu namanya :))

MENU 1 MENU 2 MENU 6 MENU 5

Logo Cheese Bury Kopitiam
Logo Cheese Bury Kopitiam

Secara keseluruhan, rasa makanan dan minumannya terasa pas di lidah saya. Dengan harga yang dibandrol tidak terlalu tinggi, namun menjamin rasa makanannya, saya kira tempat ini sangat bisa dijadikan referensi tempat nongkrong—-dan atau ngedate bersama pasangan—-berbagai kalangan usia.

Cheese Bury Kopitiam
Jl. Dr Sutomo 26 kav C1-C5 Malang
Telp: 0341-360312

Iklan

Solo Trip #2: Kelimutu, Akhirnya!


Perjalanan pertama yang saya lakukan pada hari kedua di Ende adalah menuju ke Kelimutu. Menurut Encim, tidak bisa disebut ke Flores tanpa mengunjungi danau yang dulu sempat ada di mata uang pecahan 5000 itu.Mulanya saya berencana untuk menikmati matahari terbit namun faktor tubuh yang sudah lelah membuat saya tertidur pulas dan bangun terlambat, hasilnya saya mau tidak mau baru berangkat sekitar pukul 05.45 dengan diantar ojek langganan Encim yang bernama Neldis.

Kegiatan di pasar tradisional sudah mulai terlihat meskipun pagi itu terasa begitu dingin.

Pasar Tradisional
Pasar Tradisional

Matahari Terbit Sewaktu Menuju Kelimutu
Matahari Terbit Sewaktu Dalam Perjalanan

Perjalanan menuju Kelimutu cukup jauh. Jika benar-benar ingin melihat matahari terbit dan tidak ingin terlalu lelah di perjalanan, menginap di Moni (perkampungan terdekat dengan Kelimutu) bisa menjadi alternatif pilihan. Di sana tersedia banyak penginapan. Karena untuk menuju ke sana diperlukan kurang lebih 2 jam dengan kondisi jalanan berkelok. Semua itu tidak akan terasa kalau mata disuguhi dengan pemandangan hijau pepohonan serta persawahan yang dikelola warga setempat.

Persawahan menuju Kelimutu
Persawahan menuju Kelimutu

Setelah sekian puluh menit berkendara motor, pukul 8 kami (saya dan Neldis) sampai di pos penjagaan Taman Nasional Kelimutu yang sekaligus menjadi loket pembayaran untuk memasuki kawasan tersebut. Dua orang dan 1 motor hanya dikenakan 8000 rupiah. Amat sangat terjangkau.

Gerbang Menuju Kelimutu
Gerbang Menuju Kelimutu

Dari pos penjagaan, kami masih harus menempuh perjalanan untuk menuju danau. Di sepanjang jalan, banyak ditemui wisatawan yang berjalan kaki untuk menuju ke sana. Setelah sampai di area parkir, kami segera mendaki ke arah danau. Tenang saja, jalur pendakiannya tidak begitu susah. Sudah tersedia jalan setapak serta anak tangga sehingga tidak diperlukan tenaga ekstra. Rupanya sudah banyak orang yang turun dari atas danau.
Tampak Dari Bawah
Tampak Dari Bawah

Sekilas dari kejauhan
Sekilas dari kejauhan

Mendaki ratusan anak tangga
Mendaki ratusan anak tangga

Bila diperhatikan, beberapa orang yang mendaki menghitung jumlah anak tangganya. Entah dengan tujuan apa. Biar capek menaikinya tidak terasa mungkin. Karena ternyata cukup bikin kaki nyut-nyut. Hahaha. Tapi semua itu terbayarkan begitu sudah sampai di puncaknya. Rasanya ingin melompat saking senangnya melihat keindahan dan ketenangan sekitar danau. Ternyata di situ banyak monyet berkeliaran. Mereka tampaknya tidak terasa terganggu oleh kehadiran para wisatawan.

Monyet-monyet
Monyet-monyet

Beruntungnya saya bisa melihat keindahan danau hari itu, sebab beberapa waktu lalu Taman Nasional Kelimutu sempat ditutup untuk umum dikarenakan aktifitasnya yang mengalami peningkatan. Bahkan kabarnya salah satu kawah mengalami
perubahan warna.

Tiwu Nuwa Muri Koo Fai
Tiwu Nuwa Muri Koo Fai

Tiwu Ata Polo
Tiwu Ata Polo

Tiwu Ata Mbupu
Tiwu Ata Mbupu

Ada untungnya saya datang agak siang karena menurut penjaga setempat suasana ketika matahari terbit ramai sekali. Sedangkan saat itu (sekitar pukul 8 lewat), suasana lumayan sepi sehingga bisa menikmati ketenangan danau. Sepertinya ingin berlama-lama di atas sana.

View Point
View Point

Latar Belakang Danau
Latar Belakang Danau

*Dilanjut lagi pada postingan berikutnya

Solo Trip #1 : ke Ende Mampir Denpasar


Jalur Perjalanan
Ide untuk pergi ke Ende sebenarnya sudah lama ada dalam kepala saya. Bahkan sejak pulang dari Ambon. Hingga beberapa bulan lalu saya meminta tolong seorang teman yang tinggal di sana untuk membuatkan itinerary. Tidak perlu menunggu lama, pesan melalui email pun saya dapat. Isinya tidak lain tentang rincian perjalanan untuk beberapa hari di Ende. Saya girang! Setelah membacanya, saya putuskan akan melakukan perjalanan ini dengan melalui Denpasar. Alasannya sederhana saja, karena relatif lebih murah jika dibanding langsung mengambil tiket Surabaya-Ende. Selain itu juga bisa ambil waktu sehari bersantai di Bali.

Tanggal 6 Agustus saya berangkat dari Stasiun Gubeng pukul 22.00 dengan menaiki kereta Mutiara Timur Malam. Yang menentukan nyaman tidaknya sebuah perjalanan dengan transportasi publik adalah orang yang duduk di kursi sebelah. Beruntunglah saya saat itu karena yang duduk di sebelah saya cukup berhasil membuat mata segar. Hahaha. Enam setengah jam adalah waktu yang lumayan lama, 04.30 saya sudah berada di stasiun Banyuwangi Baru. Di depan stasiun sudah terparkir bus Damri yang akan membawa penumpang tujuan Denpasar dengan menggunakan tiket terusan kereta. Sedangkan saya memilih untuk berjalan menuju pelabuhan Ketapang. Iya, cukup dengan berjalan kaki yang jaraknya kira-kira hanya 5 menit dari stasiun. Tiket seharga 6.500 sudah bisa menyeberangkan saya ke pelabuhan Gilimanuk. Berada di atas kapal penyeberangan sepagi itu rasanya seperti berada di atas kapal penyeberangan sepagi itu. πŸ˜€
Matahari pagi di atas Selat Bali

***

Jumat pagi saya pun berangkat ke Ende menggunakan pesawat yang dioperasikan Wings Air. Ini adalah pengalaman pertama saya naik pesawat berbaling-baling.

Gumpalan Awan Kapas

Bandara Labuan Bajo

Bukan. Labuan Bajo bukan tujuan utama saya kali ini. Pesawat berhenti untuk menurunkan dan mengangkut penumpang dari bandara Labuan Bajo. Hal ini cukup membuat miris. Sudah dekat tapi tidak bisa menjelajah.

14.20 saya sudah tiba di bandar udara H. Hasan Aroeboesman, Ende. Disambut dengan pemandangan gunung Meja dari kejauhan. Sesaat kemudian saya menghubungi Encim untuk mengabari kalau saya sudah sampai. Tidak ada jawaban. Dari pintu ruang tunggu bandara sudah berjajar para penyedia jasa antar. Tidak sekali atau dua kali mereka menawari saya. Berkali-kali. Saya tidak goyah. Haha.

Ternyata bandara akan segera mengakhiri jam operasionalnya, mengingat kedatangan terakhir sudah habis meskipun baru pukul 15.00. Saya pun bergeser keluar ruang tunggu dan pindah lokasi di pos polisi terdekat. Tak lama dari itu Encim menelepon dan akan segera menjemput. Jalanan Ende mengingatkan saya akan Malang.

Hari itu saya resmi menginap di rumah Encim, disambut kehangatan orang di rumahnya, dan bisa merasakan suasana berlebaran di kota–sekaligus rumah–orang. Suasana baru, dimana berlebaran tidak hanya dirayakan oleh beberapa pihak. Seolah semua orang di satu kota merayakannya. Sangat menyenangkan. πŸ˜€

Suasana lebaran di salah satu rumah anggota FC

*Foto lebaran dokumentasi Flobamorata
**Dilanjut pada posting berikutnya

Tanjung Papuma: Pesona Pantai dan Batuan Karang


Beberapa saat lalu, saya kembali ingin solo plesiran. Pantai masih menjadi destinasi utama. Hingga kemudian saya memutuskan untuk mengunjungi salah satu pantai yang berada di kota Jember. Sebutlah tempat itu dengan “Tanjung Papuma”.

Tanjung Papuma adalah obyek wisata pantai yang terletak di Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, Jember.

***

Pukul 15.34 saya berangkat dengan menggunakan bus patas menuju Jember. Walaupun sebenarnya bisa langsung menggunakan bus jurusan Ambulu. Namun karena saat itu bus tersebut sedang kosong, jadilah saya memilih Patas. Perjalan Surabaya – Jember diperkirakan memakan waktu sekitar kurang lebih 5 jam jika tidak macet. Dan benar saja, saya sampai di terminal Tawang Alun jam 08.40. Sesampainya di sana, saya berniat menaiki ojek untuk ke penginapan terdekat. Mata dan tubuh sudah tidak lagi bisa menahan lelah juga kantuk. Lalu, seorang teman menawarkan untuk menjemput dan menyediakan tempat peristirahatan di rumahnya. Saya mengiyakan.

***

Sekitar pukul 09.00 pagi saya memulai perjalanan dengan menaiki angkot menuju terminal Ajung untuk kemudian berganti angkutan lagi menuju Ambulu. Karena memang sarana transportasi menuju Papuma sangat minim sekali, saya terpaksa harus menunggu hingga 30 menit di Ajung. Sebuah colt tua pun menjadi sarana transportasi saya menuju ke Ambulu.

1 jam kemudian, sampailah saya di Ambulu. Menurut teman saya, untuk ke Tanjung Papuma, berarti saya harus menggunakan ojek. Setelah tawar menawar harga dengan si tukang ojek, saya pun segera menuju ke lokasi. Jangan lupa untuk janjian dengan tukang ojek yang mengantar untuk nanti menjemput kembali. Minta saja nomor ponselnya, karena di Papuma tidak ada ojek yang membawa kembali ke Ambulu.

Sepanjang perjalanan, saya disuguhi pemandangan pabrik-pabrik yang mengolah tembakau. Pantas saja jika saya beberapa kali melihat ladang-ladang tembakau di pinggiran jalan.

image
Salah satu pabrik tembakau

image
Ladang tembakau

Saya disambut dengan plakat besar yang bertuliskan β€œSelamat Datang di Wahana Rekreasi Alam Tanjung Papuma”.
image

Sudah sampai? Belum! Masih ada beberapa puluh menit lagi untuk sampai di pantainya. Mata saya kemudian dibuat takjub oleh pemandangan yang menyambut di sepanjang jalur menuju pintu masuk lokasi. Hutan dengan pepohonan meranggas berjejer. Jalan lengang dengan beberapa ladang hijau.

image
Pohon

image
Pohon meranggas
image
Pintu masuk

Untuk masuk ke area pantai Tanjung Papuma, setiap orang dikenakan biaya Rp7.000,-. Katanya jika hari biasa, bisa lebih murah. Jalanan yang sedikit rusak dan berkelok membuat beberapa kendaraan kesusahan melalui jalur ini. Bahkan beberapa truk mengalami mogok, dan itu menghambat pengguna jalan yang lainnya.

Setelah menempuh perjalanan begitu lama, dan inilah Papuma.
image

Iseng-iseng saya tanyakan ke salah satu petugas pantai, nama Papuma ternyata akronim dari Pasir Putih Malikan, dan Malikan adalah nama yang diberikan oleh pihak Perhutani untuk pantai ini yang berarti batu-batuan pipih. Selain itu, di Papuma juga bisa kita jumpai batu karang yang tingginya bisa berpuluh-puluh meter.
Ombak di sini cukup besar, namun masih aman jika ingin bermain atau berenang.

image
image

image
image

image

Siang itu suasana pantai cukup ramai, mungkin karena bertepatan dengan hari Minggu. Karena menurut informasi yang saya dapat, pada hari-hari biasa pantai Papuma sepi pengunjung.
Di lokasi wisata ini sebenarnya tersedia beberapa penginapan yang disewakan bagi pengunjung yang ingin bermalam di sini. Kisaran harganya antara 300-400 ribu rupiah.
Untuk makanan, tidak perlu khawatir. Sebab di sini sudah terdapat banyak tempat makan yang menyajikan bebagai macam olahan ikan segar yang didapat dari hasil tangkapan nelayan setempat.
Dengan harga 50-60 ribu, saya sudah bisa menikmati hidangan ikan bakar lengkap dengan nasi serta minumnya.

image
Nelayan yang baru kembali

***

Setelah hampir 3 jam bermain di pantai, saya tertarik untuk naik ke atas bukit menuju ke pos. Katanya pemandangan dari atas lebih indah. Dengan menaiki bukit, saya juga bisa menjumpai kera yang duduk-duduk di ranting pepohonan. Mereka tampak sudah biasa dengan kehadiran manusia di pantai ini. Asal tidak diganggu saja.

image
Kera

Saya meneruskan untuk menaiki tangga ke atas bukit, dan saya disambut dengan pemandangan seperti ini.
image

image[/caption]

image
Tangga untuk ke pos atas

Hari sudah semakin sore. Memaksa saya untuk segera mengakhiri kunjungan saya ke Tanjung Papuma dan harus segera kembali ke Surabaya. Padahal, katanya matahari tenggelam di sini bagus.

Bagi yang ingin menikmati pantai dengan pemandangan yang wow, dan tidak mau terlalu jauh ke Bali, Tanjung Papuma bisa menjadi pilihan wisata.

[31.12.2012;11:48]

***

Catatan:
Bus Surabaya – Jember : Rp42.000
Angkot Tawang Alun – Ajung : Rp3.000
Angkot Ajung – Ambulu : Rp6.000
Ojek Ambulu – Papuma : Rp25.000
Tiket masuk : Rp7.000

Semacam Kilas Balik 2012


Awal tahun 2012 dimulai dengan cerita yang penuh haru. Melihat ibu yang terbaring dengan berbagai peralatan medis dipasang di tubuhnya, hingga napas terakhir dihembuskan. Dan barikutnya menjadi tahun pertama hidup sendiri.
Kemudian, ditambah dengan status yang berubah menjadi ‘tanpa pacar’ pada bulan yang sama pula. Januari. Sungguh kombinasi yang ‘sempurna’ untuk menyerah. Tapi tidak, untungnya yang terjadi justru sebaliknya. Tak ada niatan berhenti atau bahkan mundur selangkah. Semua berkat orang-orang sekitar yang menyemangati–bukan Mario Teguh-terus. Hingga saya berada pada fase yang sekarang.

***

Januari juga berarti memulai sesuatu dengan baru. Salah satunya tempat kerja. Memang, ini sangat jauh berbeda dengan pekerjaan sebelumnya yang lebih sering berteman dengan pisau, chiller, dan beberapa alat dapur. Saya harus membiasakan diri duduk di belakang layar, mengurusi hal-hal yang sebenarnya saya tidak mengerti. Pembelajaran beberapa bulan menjadikan saya lebih bisa mengendalikan semua tugas-tugas saya sampai saat ini.

***

Setelah berbagai kesedihan pada awal bulan, selanjutnya saya seakan selalu punya kesempatan berbahagia dengan segala sesuatu yang menyenangkan. Menikmati ‘kelahiran’ baru saya.

SEMACAM PLESIRAN

Dimulai dari mengikuti kelas menulis yang diadakan oleh Sastra Madiun pada bulan Februari. Bertemu dengan orang-orang baru, diskusi, dan berbagi bersama beberapa penulis kenamaan.

image
Di Madiun

Bulan berikutnya saya kembali ikut acara di luar kota. Tepatnya di Jogja. Sebuah acara yang diadakan oleh teman-teman sana dengan tema β€œGuyub Desa” yang berlokasi di desa Gabugan, Sleman, Jogjakarta. Letaknya di bawah kaki gunung Merapi, yang merupakan desa wisata serta dekat dengan Agro Wisata Salak. Di sana, menginap di rumah-rumah warga setempat yang memang difungsikan untuk homestay.
image

Pertengahan tahun, saya akhirnya berkesempatan mengunjungi Solo. Setelah sekian lama hanya bisa melewatinya tanpa singgah. Dengan diteman beberapa teman di Solo, saya menyempatkan diri berkeliling kota dan beberapa obyek wisata. Serta menikmati kuliner khas Solo.
image

Nah, puncaknya ialah plesiran saya ke Maluku. Sebentar memang di sana, dan rasanya sangat kurang puas menjelajahinya. Dan akan berniat ke sana lagi suatu saat nanti.
image

Plesiran terakhir ialah ke Tanjung Papuma, Jember. Menikmati keindahan pantai serta batuan karang dengan berbagai macam ukuran.
image

MENONTON GIGS

Awal tahun sudah disambut dengan gig ERK di sebuah universitas Surabaya. Sebuah gig yang untuk ke lokasinya perlu perjuangan. Berteduh dari hujan angin, dikeroyok semut dan kecoa di tempat berteduh, hingga harus menyaksikan romantisme beberapa pasangan di bawah payung yang melindungi mereka dari gerimis. Hahahaha.
Meskipun ERK tampil dengan formasi tidak lengkap, namun penampilan mereka saat itu sangat memukau. Membuat lokasi mendadak jadi tempat karaoke berjamaah. Semua ikut menyanyikan semua lagu yang mereka bawakan saat itu.
image

Dua kali menonton Tompi dalam setahun. Pertama sampai harus ke Malang, dalam sebuah acara yang diselenggarakan universitas setempat. Kedua, dalam Urban Jazz Crossover bersama beberapa penyanyi dan musisi Jazz lainnya seperti Barry Likumahuwa, Harvey Malaiholo, Andien, Rieka Roslan, dll.

image
Penampilan Tompi di Malang

image
Urban Jazz Crossover

Menonton L’alphalpha, Pornikebana, serta Stars and Rabbit dalam panggung yang sama di Sunday Market Surabaya itu seru!
image

Dan penutup tahun yang oke oleh gig Adhitia Sofyan. Menjadi istimewa karena sempat mengobrol di warung makan serta foto dan dapat bonus tanda tangan setelah perjuangan untuk.ketemu. :))

Eh bahkan bertemu drummer-nya The Trees and The Wild, Inu di lolasi yang sama. πŸ™‚

Setelah melewati 2012 dengan berbagai cerita sedih hingga paling bahagia, semoga 2013 membawa banyak warna lagi. Terima kasih pada semua yang membantu saya berproses setahun ini. πŸ˜€

[31.12.12; 00:49]

*beberapa foto koleksi pribadi
**foto Guyub Desa koleksi Ade Julizar dan Asakecil
***foto Maluku koleksi Indam

Sebuah Catatan Perjalanan


Tidak ada rencana pasti hari itu akan pergi ke mana sesampainya di Malang. Segala sesuatunya berlangsung sesuai kondisi saat itu. Termasuk ketika seorang teman mengajak saya untuk singgah di sebuah tempat makan yang belum pernah saya kunjungi.

Di situ, kami berbagi banyak hal. Termasuk berbagi tawa atas beberapa kebodohan yang pernah kami lakukan. Haha

image
Pot pot yang dipajang di bagian teras

***

Nama tempat itu adalah “Noodle Inc.”

image
Noodle Inc

image

Tempat makan bergaya warehouse ini terdiri atas dua lantai. Di lantai bawah, saya merasakan sekali gaya “gudang”-nya. Namun masih tetap nyaman dijadikan tempat makan sekaligus tongkrongan.
image
image

Kami memilih untuk naik ke lantai atas. Dan kami langsung disambut dengan sepeda kayuh yang dipajang di dinding tepat di atas tangga.
image

Akan lebih asik jika memilih tempat duduk di bagian luar ruangan. Selain pandangan langsung tertuju pada jalanan, sudutnya juga nyaman. Berbincang bersama teman akan terasa jauh lebih seru.

image
Bagian luar

Berhubung di bagian luar sudah penuh, kami cukup di bagian dalam saja. πŸ™‚

image
Bagian dalam

Mengingat sudah mendekati Natal, tempat ini pun dihiasi berbagai ornamen natal. Seperti yang terlihat di atas.

***

Dari namanya, sudah jelas sekali bahwa tempat ini menawarkan menu “Mie dan Dimsum”. Beberapa olahan mie mulai dari yang berkuah dan non kuah. Pilihan untuk dimsum-nya pun cukup banyak–meskipun tidak begitu banyak menu favorit saya–dan lumayan menggiurkan.

image
Sushi Crab dan Hakau Udang menjadi pilihan kami saat itu. Ditemani hot dark chocolate–yang dipilih Pipo–serta saya yang lebih menyukai cold dark chocolate. Kurang lengkap jika ke sini kalau tidak mencoba menu mie. Dan mie tarik ayam menjadi pilihan saya. Dengan kuah segar dan pedas–tersedia juga pilihan tidak pedas–mampu membuat mata melek. Mie-nya lembut serta disajikan lengkap dengan sayuran serta potongan daging ayam. Untuk ukuran tempat makan sejenis ini, harga yang mereka tawarkan relatif terjangkau. Tak heran jika tempat ini ramai pelanggan.

image
image

Untuk pelayanan ehem tidak terlalu mengecewakan, tak perlu menunggu lama pesanan diantarkan. Bagi yang menginginkan tempat makan dengan suasana berbeda, di sinilah tempatnya.

image
Selintas

[18.12.12; 02:55]

*Noodle Inc. terletak di Jl. Soekarno Hatta DR 1-2 Malang. Jam buka 11.00-24.00

**terima kasih pada Pipo yang sudah mengenalkan saya dengan tempat ini.

Liburan Seru Maluku


“Libur lebaran tahun ini harus berbeda dan berkesan!”

Beberapa bulan lalu saya mengucapkan kalimat di atas. Mengingat dari awal tahun belum pernah merasakan libur panjang. Dan begitu mengetahui ada kesempatan menikmatinya, saya tak perlu pikir panjang lagi untuk memutuskan hal apa yang harus saya lakukan untuk mengisinya. Apalagi kalau bukan dengan liburan. Iya, liburan, plesiran, melancong. Tak tanggung-tanggung, Ambon saya jadikan target lokasi liburan saya tahun ini. Yang akan menjadi liburan terjauh saya. πŸ™‚

Saya merasa beruntung dengan mempunyai teman di Ambon. Begitu yakin dengan pilihan tempat berlibur, saya menghubungi teman saya di sana. Memberitahukan bahwa akan liburan ke kotanya. Dan dia bersedia menjadi ‘tour guide’ saya. Tiket pesawat pergi-pulang Surabaya-Ambon-Surabaya pun saya dapatkan bahkan 3 bulan sebelum lebaran. Hahaha iya, saya niat sekali. Niat sekali untuk mendapatkan tiket yang lebih manusiawi untuk celengan ayam milik saya.

Kamu tahu jadwal liburan kamu akan terganggu jika ternyata ada sistem ‘piket’ di tempatmu bekerja selama H+ sekian setelah lebaran, terutama ketika tiket sudah dipesan–meski bisa dibatalkan–dan ekspektasi keriangan keriangan telah terbentuk dalam otak. Silakan menggerutu. Dengan tekat bulat–sebulat tekatku untuk melupakan mantan. Hahaha–saya memberanikan diri untuk izin bolos piket pada atasan. Dengan penuh interogasi, saya pun diizinkan untuk tidak mengikuti piket. Keriangan keriangan di otak kembali terbentuk. Lebih dari sebelumnya.

———-

Hari haru lebaran terlewati dengan cukup lumayan merusak maskara, membuat saya ingin segera memberangkatkan diri ke pulau seberang.

Suasana bandara Juanda saat itu cukup ramai. Mengingat masih musim mudik. Dengan terburu buru, saya menerobos kerumunan orang yang lalu lalang untuk check-in. Begitu sampai di depan petugas, dia memberitahukan pesawat delay sampai jam 09.30an, padahal harusnya jam 08.05. Terpaksa saya harus menunggu sekitar sejam yang ternyata malah jadi 2 jam. Hahaha.

Hanya perlu 2 jam 20 menit untuk bisa sampai di bandar udara Pattimura. Begitu keluar dari dalam pesawat dan menjejakkan kaki di tanah, saya disambut dengan panas terik khas daerah pesisir. Sayangnya, saya tidak sempat memotret karena keterbatasan baterai.

Seorang teman telah bersiap di depan pintu kedatangan untuk menjemput saya. Keriangan mulai keluar, tervisualisasi menjadi sebentuk tawa. Akhirnya saya dapat mencapai target saya setahun lalu yakni “Tahun depan saya harus bisa ke Maluku”. πŸ™‚

———-

Teman saya menanyakan apakah lelah atau mau langsung ke pantai. Otak dengan cepat merespon dan mulut saya otomatis mengiyakan untuk langsung menuju pantai. Jalan menuju lokasi cukup berkelok kelok dengan pemandangan laut di sisi kanan dan tebing di sisi kiri. Lagi lagi tak sempat memotret, cukup disimpan dalam otak. Dalam waktu kurang lebih 45 menit, akhirnya kaki menapak juga di pantai Liang. πŸ˜€

image


Airnya sebiru minuman bersoda itu belum? Hahaha.. sempat juga berfoto foto di atas jembatan kayu terkenal itu.

Sayang sekali gerimis membuat kami terpaksa menyudahi keseruan hari itu.

———-

Kata orang, belum bisa disebut ke Ambon kalau belum datang ke Pintu Kota. Itu lho pantai yang ada batu karang dengan lubang di tengahnya. Perjalanan menuju lokasi terbilang tidak terlalu jauh. Hanya dalam waktu tak sampai 30 menit kami sudah bisa menikmati pemandangan seperti ini

Foto kedua menunjukkan bahwa saya memang benar benar ke Ambon. Hahaha.

Untuk kuliner, beberapa teman bilang kalau wajib mencicipi cakalang. Ke Ambon belum lengkap tanpa makan ikan. Jadilah saya mencoba cakalang asap sambal colo colo. Daging ikan yang diasap dicocol ke sambal yang rasanya asam, pedas, asin, dan segar benar benar membuat lidah dimanjakan (bahasa saya begini amat ya hahaha). Terlebih ini dimasakkan oleh keluarga Bang Yezsco (terima kasih sekali). Tak perlu definisi panjang lebar, langsung saja saya kasih tunjuk wujudnya πŸ™‚

Ketika sepulangnya dari pantai Liang, saya diajak mampir ke Natsepa untuk mencicipi kuliner wajib coba saat berkunjung ke Ambon, yakni rujak. Sebelumnya, saya kira akan seperti apa rujak tersebut, ternyata sekilas tidak jauh beda dengan rujak buah yang disiram dengan bumbu kacang. Namun begitu saya merasakan sendiri, ternyata rujak ini lebih nikmat daripada rujak buah yang saya makan sebelumnya. Yang membuatnya berbeda adalah rasa asamnya (yang katanya berasal dari buah tertentu, sedangkan di sini seringnya menggunakan asam biasa) serta pemakaian kacangnya yang cukup banyak. Pastilah rujak ini lebih ciamik di lidah.

——–

Hari berikutnya saya diajak ke sebuah cafe dengan suasana khas Maluku lengkap dengan lagu lagu khas sana yang ternyata cukup nyaman didengarkan. Sebutlah tempat itu, Sibu-Sibu yang dalam bahasa Indonesia berarti sepoi sepoi.

Dan di ditulah saya untuk pertama kali merasakan minuman pala ini, yang sukses membuat saya mengantuk siang itu. πŸ™‚

Sebenarnya masih banyak tempat yang belum sempat saya kunjungi di sana, dikarenakan kendala waktu (libur kurang lama) serta cuaca yang kurang mendukung. Jadi ketika saya ditanya apakah suatu hari berminat ke Maluku lagi, maka dengan yakin akan saya jawab IYA MAU! Jadi, jika anda ingin merasakan sensasi liburan yang berbeda dari biasanya, saya sarankan anda untuk berwisata ke Maluku. Apalagi jika anda menyempatkan diri untuk menyeberang ke pulau pulau sekitar, yang dijamin tidak akan membuat anda menyesal memasukkannya dalam daftar kunjungan. Ayo ke Maluku!

————————

Ah iya terima kasih untuk teman teman yang sudah menemani saya selama di Ambon. Bang Almascatie, Bang Yezsco, Bang Pierre, Nini, Mbak Indam, dan masih banyak yang lainnya. πŸ˜€

*Foto Jembatan Pantai Liang saya comot dengan seenaknya dari sebuah situs yang saya lupa alamatnya
**Foto ramerame di jembatan hasil jepretan Bang Yezsco
***Foto Pintu Kota hasil potoan Bang Almascatie
Posted from WordPress for Android