Tentang Perahu dan Keentahan di Laut Kita


/1/
Sesuatu telah menjadi debur di lautan tanpa nama. Mengombang-ambingkan
perahu kita yang dulu pernah tenang.

Sempat kita tatap pesisir di ufuk yang tak pernah dikenali. Sempat
pula kita baca petunjuk arah dari rasi-rasi yang sengaja membentuk
posisi yang tak pernah mampu dimengerti. Maka kupeluk dirimu. Di atas
perahu demi mencari tanda-tanda di mana keberartian mampu melabuhkan
kita.

Hanya angin yang sibuk berbisik menengahi peluk ataukah memang tiada
isyarat yang mampu kutangkap dari tubuhmu. Seakan mereka berlarian,
menjauhiku.

Sedang tak kurasa lenganmu yang pelangi. Yang biasa melengkung di
bibirku kala aku mengingatmu sambil menadahkan tangan di bawah
rintikan hujan. Hujan tanpa angin yang seperti kini. Menggoyangkan
perahu ke kanan kiri. Seolah menanti seorang di antara kita terjatuh
dan tenggelam. Dalam keasinan sunyi yang menggelombang—melumati
mabuknya asa.

Menunggu waktu menumbuhkan karangkarang hati. Mati diri pada kehampaan
tak berujung.

/2/
Selanjutnya rindu mana yang kelak akan menyambut? Kita di sini, di
atas perahu yang lahir dari rajutan bulu mata. Mengapung, dan hanyut
membawa kita jauh. Tiba pada hampa-hampa yang menceburkan dirinya.
Menjadi ombak baru yang mencipratkan heningnya di bajuku. Lalu basah.
Seperti matamu—dan juga mataku diam-diam.

Ataukah ombak yang ganas itu akan menghancurkan perahu kita. Kau dan
aku sama-sama digulungnya. Mendamparkan kita pada pantai yang
berlainan, tinggallah kita mencari jalan masing masing untuk bertahan
dengan saling menggenggam perih.

Tetiba aku menjadi nahkoda yang memimpin ke mana dayung menggerak
perahu untuk menghindar. Dan kau adalah layar yang mengembang lalu
terlepas dari tiangnya. Dan kembali, aku sendiri dengan kuntum rasa
yang sama kala perih itu kau lebamkan seutuhnya padaku. Kuteguklah
laut hingga sama kerontangku dengan dadaku. Dengan kesendirian.

Perahu kita kian menjauhi arah tujuan, sedang aku ingin menangkapmu
yang diterbangkan angin. Kudayung perahu koyak kita. Namun angin
terlalu beringas melarikanmu. Semakin jauh aku tertinggal. Perih kian
melebam di dada.

Sekoyaknya perahu, sekoyaknya waktu. Laut mendadak jernih dan
memantulkan wajahku. Ah, bukan aku yang kini. Namun yang lalu, yang
berada di dalam kenangan bersama angan—telah diterbangkan angin. Aku
membuyarkannya dengan mencelupkan tangan, merengkuh air laut dan
membasuhnya ke perih luka. Sementara dirimu kian mengecil di kejauhan.
Aku kian kerdil dalam sakit yang merendam luka. Melubang-lubangi duka.

/3/
Barangkali aku adalah manusia dengan segenap melankolia. Kehilangan
layar yang diterbangkan angin—kau, serta kemampuan membawamu kembali.
Sebab biru terlalu setia mendekap tiap luka di laut dadaku. Memaksaku
berhenti di detik ini dengan sisa asa yang mengapung apung di pelupuk.

Barangkali pula aku adalah pencinta dengan rindu yang karang. Kuat
namun tak pernah mau beranjak dan menangisi ketegarannya sendiri.
Selaik aku yang takkan pernah mau pergi dari sini. Dari perahu yang
sempat membawa rangkulan senyum di jari-jemarimu. Dulu.
Berilah aku isyarat barang setanda. Tentang ke mana arah angin
melarikan cinta—kau. Biar kita kembali berlayar, menebas cakrawala,
menuju pantai yang amat kita ingini. Dulu.

/4/
Mulailah kucatat ke mana wangi bibirmu lewat mematikan bau laut yang
bosan kuhirup. Menandai di ufuk mana ingatan tentangmu terbenam. Dan
menghidu desir hampa yang pernah sama-sama kita rasa. Memeriksa lubang
pada karang yang menyentuh ujung perahu. Mencari keberadaanmu yang
telah entah dengan sisa-sisa peta senyumanmu di lubuk mata. Mata yang
merah-memerih perah airnya.

Maka pada suatu pagi, aku amati setiap tanda. Di air, di karang, di
udara, mencuri dengar desau angin—yang melarikanmu. Berharap ada
isyarat yang mampu kutangkap sebelum angin kembali merampasnya.
Dan akan kautemui aku sebagai kanak yang mengeja waktu-waktu yang
telah mati. Yang lalu bereinkarnasi menjadi asa baru untuk kugapai.
Sebab kehilangan bukan alasan bagiku untuk mengukirkan nisan-nisan
atas segala rindu yang lebih ombak dari lautmu. Maka biarkan perahuku
terbawa menujumu. Menuju ketersesatan di dadamu. Menemu muara yang
kuidam. Tatap dalam kita yang lalu berpelukan.

/5/
Biarkan aku kembali menggemuruhkan palung dadamu, yang lebih dalam
dari laut manapun. Dan aku akan tetap menjadi nahkoda dengan kau
menjadi layar yang kan selalu terkembang, tanpa perlu risau
diterbangkan angin. Menuju pantai dengan ombak tenang, berpasir putih
serta nyiur yang meneduh.

Mari kita damparkan hati ke debar yang kita damba. Lalu menenggelamkan
perahu setibanya di sana. Menyangsi bahwa hari ada untuk kita huni
sendiri, membangunnya sendiri dengan kedipan-kedipan. Bicara tentang
rahasia yang tak perlu lagi kita hanyut dan sembunyikan lagi.

Malang – Surabaya 2011
Andi Wirambara – Nova Ridha A.

*Sebuah kolaboraSweet bersama Andi Wirambara
#KolaboraSweet

Iklan

Monolog Embun dan Sesuatu yang Diintipnya di Balik Daun


/1/
Aku mengenalmu dari hening tempat pucuk-pucuk daun mengintip matahari, dan dahan menyala oleh keterbatasan–pun kerapuhan kala dipijaki burung-burung yang senandungkan kesunyian.
Dari tempatku, aku membaca gerakmu seperti penari berkostum hijau yang digerakkan angin. Sedang aku menunggu permainan waktu. Untukku menguap lesap dan tak bersisa atau menghempas cadas di bebatuan.
Lalu manakah dari lihatanku yang mendusta hening yang ada?

/2/
Aku mencoba membaca gerakmu perlahan, seperti kaki kumbang yang hendak mengukirkan senyuman di tanah basah. Seperti kenangan, seolah kerinduan. Sebab sebagai embun, tak ada lagi yang bisa kuberikan padamu selain sejuk tubuhku. Mungkin kau akan menyeka, mengusap, atau mungkin menegukku. Namun telah kurebah segala ingin, segala kelu dingin atas segala wangi pepucuk daun.
Aku menanti bagaimana kau memelukku. Yang embun ini.

/3/
Rupanya sisa mimpi masih kuat melekat. Meski dingin berkali-kali menampar. Kini kulihat kau sedang menari bersama kupu-kupu yang indah mengepak sayap. Lalu, di sini lahan disulap menjadi panggung romansa. Kau dan dia menari, biji-biji dandelion menjadi pengiring. Semesta kalian berpesta.
Jika bisa, aku ingin menjadi hujan, melubangi sayap kupu-kupu yang lentikkan senyuman. Tapi aku takut kian tak bisa merengkuhmu, kau akan berteduh di bawah sayap kupu yang menawarkan teduh. Dan aku ingin menyentuhmu saja, sesaat, lalu pecah. Menempias pada batu, pada tanah, tidak padamu. Semestaku pun hancur.

/4/
Jika saja kupu-kupu itu aku, dengan segala pesona mampu memunculkan simpul senyum di wajahmu. Sekalipun gigil pagi menyelimutimu. Tapi tidak! Aku tak mau jika harus bermetamorfosa menjadi ulat nantinya. Menggerogotimu perlahan, untuk mempertahankan diriku sendiri.
Maka kuberikan siluet keheningan di pantulan telaga yang muncul dari setitik air mataku. Ah, embun berairmata, bisakah kau bayangkan betapa beningnya itu?
Di beningnya terselip segala haru, berhimpit sesak, mengoyak jerih. Semua terangkum dalam diri rapuhku. Kau tahu?

/5/
Kini kurapalkan sesuatu untukmu. Pada salam sisi rerumputan, dan asa yang mengapung di muka telaga. Kukatakan aku akan tetap di sini. Sebagai embun terakhir yang akan menguap. Embun terakhir yang akan tetap membaca gerakmu perlahan-lahan. Embun yang mencintaimu diam-diam.
Sebelum akhirnya pecah dan menguap di udara.
Hingga bergeraklah awan-awan yang seolah didayungi oleh waktu yang menaungi harapan. Menuju siang paling sepi, senja paling repih dan malam yang paling kelu. Mengutuki ketabahan. Untuk menemuimu kembali pada pagi yang lain. Hingga aku dapat kembali memandangmu, merekam gerakmu, mendesahkan asa pada pagi yang gamang, lalu bernostalgia aku dengan kisah kita yang tak pernah ada.

Demikianlah suatu kecupan yang tak pernah kau tahu, di pipimu yang enggan dilekati setitikpun aku. Sebagai embun, sebagai tetesan kesunyian di pohonpohon rimbun.

***

Malang – Padang Tegal, 02 Juni 2011
Andi Wirambara – Nova Ridha A.

*sebuah kolaborasi saya bersama @baracoedaz * 🙂