Solo Trip #1 : ke Ende Mampir Denpasar


Jalur Perjalanan
Ide untuk pergi ke Ende sebenarnya sudah lama ada dalam kepala saya. Bahkan sejak pulang dari Ambon. Hingga beberapa bulan lalu saya meminta tolong seorang teman yang tinggal di sana untuk membuatkan itinerary. Tidak perlu menunggu lama, pesan melalui email pun saya dapat. Isinya tidak lain tentang rincian perjalanan untuk beberapa hari di Ende. Saya girang! Setelah membacanya, saya putuskan akan melakukan perjalanan ini dengan melalui Denpasar. Alasannya sederhana saja, karena relatif lebih murah jika dibanding langsung mengambil tiket Surabaya-Ende. Selain itu juga bisa ambil waktu sehari bersantai di Bali.

Tanggal 6 Agustus saya berangkat dari Stasiun Gubeng pukul 22.00 dengan menaiki kereta Mutiara Timur Malam. Yang menentukan nyaman tidaknya sebuah perjalanan dengan transportasi publik adalah orang yang duduk di kursi sebelah. Beruntunglah saya saat itu karena yang duduk di sebelah saya cukup berhasil membuat mata segar. Hahaha. Enam setengah jam adalah waktu yang lumayan lama, 04.30 saya sudah berada di stasiun Banyuwangi Baru. Di depan stasiun sudah terparkir bus Damri yang akan membawa penumpang tujuan Denpasar dengan menggunakan tiket terusan kereta. Sedangkan saya memilih untuk berjalan menuju pelabuhan Ketapang. Iya, cukup dengan berjalan kaki yang jaraknya kira-kira hanya 5 menit dari stasiun. Tiket seharga 6.500 sudah bisa menyeberangkan saya ke pelabuhan Gilimanuk. Berada di atas kapal penyeberangan sepagi itu rasanya seperti berada di atas kapal penyeberangan sepagi itu. πŸ˜€
Matahari pagi di atas Selat Bali

***

Jumat pagi saya pun berangkat ke Ende menggunakan pesawat yang dioperasikan Wings Air. Ini adalah pengalaman pertama saya naik pesawat berbaling-baling.

Gumpalan Awan Kapas

Bandara Labuan Bajo

Bukan. Labuan Bajo bukan tujuan utama saya kali ini. Pesawat berhenti untuk menurunkan dan mengangkut penumpang dari bandara Labuan Bajo. Hal ini cukup membuat miris. Sudah dekat tapi tidak bisa menjelajah.

14.20 saya sudah tiba di bandar udara H. Hasan Aroeboesman, Ende. Disambut dengan pemandangan gunung Meja dari kejauhan. Sesaat kemudian saya menghubungi Encim untuk mengabari kalau saya sudah sampai. Tidak ada jawaban. Dari pintu ruang tunggu bandara sudah berjajar para penyedia jasa antar. Tidak sekali atau dua kali mereka menawari saya. Berkali-kali. Saya tidak goyah. Haha.

Ternyata bandara akan segera mengakhiri jam operasionalnya, mengingat kedatangan terakhir sudah habis meskipun baru pukul 15.00. Saya pun bergeser keluar ruang tunggu dan pindah lokasi di pos polisi terdekat. Tak lama dari itu Encim menelepon dan akan segera menjemput. Jalanan Ende mengingatkan saya akan Malang.

Hari itu saya resmi menginap di rumah Encim, disambut kehangatan orang di rumahnya, dan bisa merasakan suasana berlebaran di kota–sekaligus rumah–orang. Suasana baru, dimana berlebaran tidak hanya dirayakan oleh beberapa pihak. Seolah semua orang di satu kota merayakannya. Sangat menyenangkan. πŸ˜€

Suasana lebaran di salah satu rumah anggota FC

*Foto lebaran dokumentasi Flobamorata
**Dilanjut pada posting berikutnya

Iklan

7 pemikiran pada “Solo Trip #1 : ke Ende Mampir Denpasar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s