Duakosong Duabelas Duakosongduabelas


Duakosong duabelas duakosongduabelas. Saya yang bangun lebih pagi setelah melewati malam jahanam di tempat kerja.

Duakosong duabelas duakosongduabelas. Siang yang tak lagi sama. Kembali bisa menikmati jajanan yang membuat senyum saya naik level.

Duakosong duabelas duakosongduabelas. Sore dengan mendung tanpa hujan. Secangkir kopi dingin serta krim di atasnya. Lalu sesuatu berlarian dalam kepala.

Duakosong duabelas duakosongduabelas. Malam dan menunggu kembali saya perankan. Sebuah tulisan seseorang tentang ibunya yang membuat mata basah. Adegan ditelepon ibu untuk sekedar mengingingatkan anaknya sedang dimainkan dalam kepala saya.

Duakosong duabelas duakosongduabelas. Bulan berpindah ke dalam secangkir kopi yang masih panas. Kecemasan yang berlebih, tawa yang lepas atau dibuat-buat. Orang-orang yang ramai membicarakan ramalan kiamat esok hari. Entahlah.

Duakosong duabelas duakosongduabelas. Angkot penuh sesak, wajah-wajah kelelahan. Tujuan yang sama: rumah.

Duakosong duabelas duakosongduabelas. Teringat batas waktu yang tinggal 4 hari lagi dan saya yang belum memulai apapun.

Duakosong duabelas duakosongduabelas. Waktu yang terus berjalan, dan konon akan berlari jika sedang bersama orang yang disayangi.

Duakosong duabelas duakosongduabelas. Saya yang sangat merindukan rumah.

[20.12.2012; 23:45]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s