Monolog Embun dan Sesuatu yang Diintipnya di Balik Daun


/1/
Aku mengenalmu dari hening tempat pucuk-pucuk daun mengintip matahari, dan dahan menyala oleh keterbatasan–pun kerapuhan kala dipijaki burung-burung yang senandungkan kesunyian.
Dari tempatku, aku membaca gerakmu seperti penari berkostum hijau yang digerakkan angin. Sedang aku menunggu permainan waktu. Untukku menguap lesap dan tak bersisa atau menghempas cadas di bebatuan.
Lalu manakah dari lihatanku yang mendusta hening yang ada?

/2/
Aku mencoba membaca gerakmu perlahan, seperti kaki kumbang yang hendak mengukirkan senyuman di tanah basah. Seperti kenangan, seolah kerinduan. Sebab sebagai embun, tak ada lagi yang bisa kuberikan padamu selain sejuk tubuhku. Mungkin kau akan menyeka, mengusap, atau mungkin menegukku. Namun telah kurebah segala ingin, segala kelu dingin atas segala wangi pepucuk daun.
Aku menanti bagaimana kau memelukku. Yang embun ini.

/3/
Rupanya sisa mimpi masih kuat melekat. Meski dingin berkali-kali menampar. Kini kulihat kau sedang menari bersama kupu-kupu yang indah mengepak sayap. Lalu, di sini lahan disulap menjadi panggung romansa. Kau dan dia menari, biji-biji dandelion menjadi pengiring. Semesta kalian berpesta.
Jika bisa, aku ingin menjadi hujan, melubangi sayap kupu-kupu yang lentikkan senyuman. Tapi aku takut kian tak bisa merengkuhmu, kau akan berteduh di bawah sayap kupu yang menawarkan teduh. Dan aku ingin menyentuhmu saja, sesaat, lalu pecah. Menempias pada batu, pada tanah, tidak padamu. Semestaku pun hancur.

/4/
Jika saja kupu-kupu itu aku, dengan segala pesona mampu memunculkan simpul senyum di wajahmu. Sekalipun gigil pagi menyelimutimu. Tapi tidak! Aku tak mau jika harus bermetamorfosa menjadi ulat nantinya. Menggerogotimu perlahan, untuk mempertahankan diriku sendiri.
Maka kuberikan siluet keheningan di pantulan telaga yang muncul dari setitik air mataku. Ah, embun berairmata, bisakah kau bayangkan betapa beningnya itu?
Di beningnya terselip segala haru, berhimpit sesak, mengoyak jerih. Semua terangkum dalam diri rapuhku. Kau tahu?

/5/
Kini kurapalkan sesuatu untukmu. Pada salam sisi rerumputan, dan asa yang mengapung di muka telaga. Kukatakan aku akan tetap di sini. Sebagai embun terakhir yang akan menguap. Embun terakhir yang akan tetap membaca gerakmu perlahan-lahan. Embun yang mencintaimu diam-diam.
Sebelum akhirnya pecah dan menguap di udara.
Hingga bergeraklah awan-awan yang seolah didayungi oleh waktu yang menaungi harapan. Menuju siang paling sepi, senja paling repih dan malam yang paling kelu. Mengutuki ketabahan. Untuk menemuimu kembali pada pagi yang lain. Hingga aku dapat kembali memandangmu, merekam gerakmu, mendesahkan asa pada pagi yang gamang, lalu bernostalgia aku dengan kisah kita yang tak pernah ada.

Demikianlah suatu kecupan yang tak pernah kau tahu, di pipimu yang enggan dilekati setitikpun aku. Sebagai embun, sebagai tetesan kesunyian di pohonpohon rimbun.

***

Malang – Padang Tegal, 02 Juni 2011
Andi Wirambara – Nova Ridha A.

*sebuah kolaborasi saya bersama @baracoedaz * πŸ™‚

Iklan

6 pemikiran pada “Monolog Embun dan Sesuatu yang Diintipnya di Balik Daun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s