Romansa Sepiring Mie di Atas Panggung Kedipan Mata


Sesuatu menjadi kelambu di panggung mata kita. Di atasnya, kita duduk berhadapan di sebuah meja bundar. Seperti bola matamu.
Sepiring mie instan kau seduh dari air mata hangatmu. “Ini bukan kesedihan, namun sebentuk rindu yang menggenang.” Senyumku membalas.
Sesuatu menggetarkan panggung kita. Meja kita. Perlahan merubah bentuknya menjadi sekoci dan sepiring mie kita masih utuh di situ. Telah lunak mie di piring kita itu. Kau mengambil garpu, aku mengambil serbet hati dan mengalungkannya di lehermu. “Agar kau tak kotor.”
Sekoci kita terombang-ambing. Pelan. “Tak ada laut di sini.” Katamu heran. “Itu rindu kita, yang mengombak lembut. Pun syahdu.
Sehelai mie kau angkat sambil menatapku. “Panjang, seperti milikmu.” Aku terkekeh. “Ini maksudmu?” Aku mencabuti bulu mataku.
Bulu mataku memanjang bak tongkat kera sakti yang melegenda ini. Ah,kisah kita akan lebih berhikayat, bukan?
Kau masih mengangkat mie itu. Bulu mataku berubah jadi syal. Kita mengambil ujungnya. Saling melilitkannya. “Kau siap untuk kusuap?”
Bulan muncul. Di sana sepasang bayang memantul. Sesendok–ah, segarpu–mie itu kau suapkan ke mulutku. Aku menyuapimu kehangatan.
Sekoci kita mendadak tenang, lalu hilang. “Apa rindumu hilang?” tanyamu. “Tidak, bukankah laut kadang suka menyimpan gelombangnya?” Sekoci kita memang hilang. Namun kita tidak tenggelam. Kita memijak panggung. Kita melihat diri. Ah, kita kembali ke matamu.
Sehentak nada mengalun di celah-celah telinga. Katamu mulai mengikuti nada. Masih dengan sepiring mie di kedua telapak tangan. “Apakah ada yang lebih indah daripada panggung matamu?” tanyaku. Kau menggeleng kembali menyuapiku segarpu mie dari piringmu itu. Kau menyiratkan kode dengan matamu. Memintaku untuk gantian menyuapimu.
“Sesendok mie, atau nadiku yang mendenyutimu tiap waktu?” godaku.
Kau memilih mie. “Aku tak mau nadimu. Sebab kau tak bisa bedakan mana nadimu, mana nadiku. Hati kita membuat simpul di antaranya.”
Mie itu tinggal sedikit, kau menggulungnya lembut seperti menggulung waktu yang sempat menjarak kita. Sebuah rindu membulat. Jadi telur.
Kita adalah romansa di atas panggung matamu. Aku masuk dengan setiket rindu. Kau menyambutku dengan sepiring mie. Sepiring senyuman.
Dan tak terasa mie itu telah habis. “Apa kisah kita pun habis?” tanyamu. Aku menggeleng. Mie itu berdiam di lambung. Lambung hati kita. Kita tak akan sakit. Yang kita makan akan menjadi sesuatu yang berbaur dalam darah. Serupa kenangan yang lekat di ingatan.
Piring telah kosong. Kita bertatapan dengan noda mie di sisi bibir. “Boleh kuseka?” tanyamu. Dan kau menyeka masa laluku.
Kita kembali ke panggung matamu. Sepiring rindu, seseka masa lalu. Kita berdansa di matamu. Di matamu.

Oleh: Andi Wirambara

*sebuah karya manis yang ditulis oleh BARA

**Terima kasih atas tulisan manis ini, partner pecinta mie 😀

Iklan

2 pemikiran pada “Romansa Sepiring Mie di Atas Panggung Kedipan Mata

  1. bukan tulisanmu, tho? pantesan beda. 😀

    etapi ini keren juga..
    tulisannya melarut, mengalir. aku suka.

    sampaikan salamku untuk bara 😉
    *eh, bara apa andi sih namanya? :))*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s