Cintamu, Luka Itu


Tak pernah lagi kudapati diri merayakan rindu.
Sejak saat senja diamdiam meninggalkan telaga. Usai kulemparkan semua kenangan usang padanya.
Terlalu banyak mozaikmozaik yang harus ia punguti.
Kau tahu?

Tak pernah lagi kudapati diri merawat luka.
Sejak saat hujan mulai berhenti menjejakkan ujungujung sepatunya yang runcing. Setelah air mataku meranggas dan kuhanyutkan pada alirnya.
Terlalu banyak duka yang harus ia buang pada lautan.
Kau tahu?

Dan, tak kudapati lagi diri menanti kicau burung pembawa pesan.
Sejak saat ia memilih hinggap dan berkicau di dahan yang lain.
Seperti kau yang telah menemukan telaga baru.

Cintamu. Luka itu.

Iklan

4 pemikiran pada “Cintamu, Luka Itu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s