Di Sudut Rak Berdebu


Kita hanya sepotong kisah kecil yang terjebak dalam lembarlembar usang buku di sudut rak penuh debu.
Rangkai kata tak lagi menarik untuk dieja. Atau sekedar dipandang.
Tak ada lagi alur cerita yang mampu menerbitkan mentari di sudut mata seperti dulu.

Barangkali segala sunyi cukuplah menjadi teman perbincangan yang tak mampu lebih sunyi lagi.

Kita samasama enggan mengabarkan cerita masingmasing, meskipun kita samasama tak yakin cerita itu pernah benarbenar ada.

Barangkali kita tak benarbenar saling berkisah. Tentang masa depanmu dan masa laluku.
Hingga gelap seakan bahagia kala takdir tak merelakan kita membuat jembatan di antara itu semua.

Kita kini tak lebih dari cerita yang terperangkap dalam usang buku dan koyak halaman.

Padang Tegal 2011

Iklan

12 pemikiran pada “Di Sudut Rak Berdebu

  1. sejak kapan pakai penggabungan kata ulang tanpa strip? :p
    samasama, benarbenar?
    Bikin aku ingat orang-orang Teater Nusantara πŸ˜€

  2. keren, mbak,,,,, πŸ˜€
    suka banget,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, oiya, kenapa suka buat hashtag #angsa, mbak?

    1. Makasiiih. .

      Wah ternyata ada yg merhatiin hashtag #angsa ku toh heuheu
      Err aku pake hashtag itu, karena angsa kuibaratkan “rindu” yg akan selalu kembali pulang ke hati. #tttsaaah :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s