#26 Labang Terakhir


Gerimis mengendap bersama sisa tawa di selasar jalanan.
Bias wajahmu menyisa di genangan air hujan.
Mengingatkanku pada binar matamu yang menawan.
Di sana kutemukan ngarai penuh damai dengan tarian rama-rama dan cericit burung melagukan keindahan.

Cahaya bulan membusur bersama siluet gerimis di bentang cakrawala.
Sedang kunang-kunang berpendarang di gelap ujung jalan.
Malam pun terkeriap perlahan.
Dan aku berusaha memandangi satu-satu jejak yang telah kupijak.
Di sana terlukis segala yang telah terlalui.
Harapan,mimpi,angan,luka,bahagia,kau.
Seketika lelah berat membeban.

Mungkin inilah labang terakhirku. Kini saatnya aku pulang menuju kembali ke hatimu. Satu.

Iklan

6 pemikiran pada “#26 Labang Terakhir

  1. Sup.. malem2 itu mbok ya jangan keluyuran.
    Bagus ketemu kunang2.. lha kalo ditawar hidung belang?
    Gimana? πŸ˜€

    *sodorin sus hangat, malam2 kedinginan toh?*

  2. Sumpah! Saya sering bingung kalau mau komen blog2 puisi, sama kayak yg di blog-nya inge itu.
    Bentar… *mencoba konsentrasi*

    Ah, sudahlah. Pokoknya sip dah! πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s