#16 Di Depan Tubuh Pucatmu


Kegetiran terasa mendalam saat kulihat dirimu tergolek tak berdaya.
Tawamu lenyap. Candamu lesap.
Pucat menyelimuti tubuhmu.

Kepedihan menyayat dada. Melihat tubuhmu yang tak lagi bernyawa.

Kesedihan seperti menelusup secara paksa kala harus merelakan semua.

Sekarang. . .
Aku hanya sendiri berjalan memandangi hidup lepas satu persatu dariku.
Aku pun hanya mampu menemuimu lewat doa.

Kini saatnya kuharus mengubur tubuhmu. Menyimpanmu dalam memoriku.
Meski kini kuhanya bisa memandangi pusaramu.

Iklan

6 pemikiran pada “#16 Di Depan Tubuh Pucatmu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s