#14 Catatan dari Tempat Paling Sunyi


Di sini, telah banyak kutorehkan jejak, luka, duka, suka, dan bahagia bersama mereka.

Namun kini tempat ini tak lagi sama kurasa.

Bertahan atau pergi, berhenti atau mengalir, statis atau bergerak.
Mungkin dari titik inilah aku tahu hatiku, di dini hari, di fajar yang belum menyingsing, di embun yang menyembul. Hening. Kosong. Tak lagi seberagam warna-warni lengkung busur pelangi ataupun tak lagi semenarik senja dengan cahaya keemasan dan bias ungu pada mega-meganya. hanya tinggal polos. Biasa.
Perlahan-lahan, kurasa tak ada lagi aliran hangat yang sedari tadi mengalir dari beningnya mata. Kurasa kekosongan hatiku kini pun telah mendera mataku, mengisap seluruh airnya hingga mengering.
Lalu bias ini pun membelah, memecah, indah, walaupun aku memutuskan untuk berbalik pergi sendiri. Mencari pantai persinggahan dengan senja yang bagus, ombak, angin, matahari, nyiur, pasir yang hangat, air laut yang jernih hingga ku dapat melihat hingga ke dasarnya yang penuh karang cantik yang dibalut dengan ombak yang berdesis syahdu nan damai…lalu kutenggelam dalam pesona indah alam yang nyaman dan damai, dan aku pun tak berbalik tuk kembali

Iklan

11 pemikiran pada “#14 Catatan dari Tempat Paling Sunyi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s