#4 Sepotong Senja


Memandangimu di senja kala itu
Memanggil namamu hingga parau suaraku
Tak pernah lelah kuteriakkan perihnya rindu
Meski tak kudengar satu jawabmu
Yang ada hanyalah pilu

Sisa sedihkan senyap
Dalam riuh sepotong senja
yang tiba-tiba mengambil cinta kita
Antara desir angin, gemawan, dan jingga yang tak berkata-kata.

Iklan

8 pemikiran pada “#4 Sepotong Senja

  1. Keren keren…sekedar uneg-uneg: kok ‘tiba-tiba’ kamu-puisi dan aku-puisi menjadi ‘kita’ di baris ke-3 pada bait ke-2,..apa karena mata awam puisi saya ya yang tidak bisa melihat kamu-puisi dan aku-puisi yang ‘telah atau sudah’ di ‘cinta’ yang satu,’cinta’ yamg sama ?
    Sekali lagi ini sekedar uneg-uneg si pemula lho…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s