Sebab Aku Ingin Melepasmu Dengan Mudah


Sebab bayangmu masih kuat mendekap ingatan, maka:

Aku ingin melepasmu dengan mudah
Semudah ombak menghapus jejak kaki
Semudah angin mebawa bisikku pergi

Aku ingin melepasmu dengan mudah
Seperti waktu melambaikan tangannya pada harihari
Dan siang menggelincirkan malam

Aku ingin melepasmu dengan mudah
Semudah kanakkanak hujan menghapus kemarau
Semudah mata membulirkan airnya

Aku ingin melepasmu dengan mudah
Seperti layanglayang yang terbang dan tak pernah takut jatuh

Balebengong 2011

Begitu Sederhana Sebuah Kebahagiaan


Begitu sederhananya kebahagiaan itu.
terlahir saat sekedar mendapat ucapan “selamat pagi” melalui pesan yang kau tinggalkan di kotak ajaibku.

Begitu sederhananya kebahagiaan itu.
timbul dari setiap perbincangan
seperti ceritamu tentang desau angin dan debur ombak
yang membuat lumbalumba enggan nampak
atau tentang hewan laut yang tak kau suka.

Begitu sederhananya kebahagiaan itu
ada saat kau mengirimkan angsa penjaga tidur lewat sebuah ucapan “selamat malam” sebagai penutup hari.

Begitulah kebahagiaankebahagiaan sederhana yang tercipta.
Sesederhana mata berkedip untuk pertama kalinya menyambut pagi dan bulat bulan yang mengintip bumi.

Padang Tegal

Selembar Surat


Berderetderet huruf telah kau tuliskan di tubuhku,
sajaksajak cinta yang seolah kau ciptakan untukku, bukan untuknya.

Barangkali kau tak pernah benarbenar tau aku hanya akan menjadi pembawa pesan cinta yang berakhir di remasan tangan perempuan itu sebelum meringkuk dalam tempat sampah. Bahkan sebelum sempat ia membacaku.

Suatu saat aku ingin menggantikan perempuan itu.
Menjadi penerima sajaksajakmu
dan aku akan menjadi mabuk hingga terlupa bahwa aku adalah selembar surat yang mencintai penulisnya.

Surabaya 2011

#surat

Menemukanmu


Pada pecah jalanan ibu kota
dan koyak senja itu, kakiku mengayuh perjalanan pilu:

sebagaimana aku adalah pengembara abadi

mencari kuat pada lelah

sebagaimana kaki yang alpa

pada kekeluan disebabkan waktu

untuk menemukan bagian dari garis tangan takdir

Surabaya 2011

#perjalanan

Tujuhbelas


:A

Tujuhbelas, selamat datang.

Tujuhbelas, masihkah kau membangun jembatan dari kotamu ke kotaku?
Sebab aku tak mampu mendengar gaduhnya dari sini.
Atau barangkali kemampuan dengarku mulai menghilang?

Tujuhbelas, kau tak pernah letih
dan aku tak lelah menanti.
Hari di mana kakikaki kita meniti jembatan yang kau bangun
dari beribu jarak dan berlembarlembar waktu.
***

Tujuhbelas, tahukah kau jika gelisah selalu menjadi penengah saat kuderaskan doa yang tidak hendak berhenti.
Gelisah yang mungkin sama dengan gelisahmu.

Tujuhbelas, barang sudah pasti kini kau menyiapkan strategi perang esok.
Perjuangan untuk sesuatu yang akan menentukan langkahmu selanjutnya.

Tujuhbelas, doadoaku akan menemanimu esok.
Dan aku akan menantimu kembali dengan membawa senyum.

Balebengong 2011

Cintamu, Luka Itu


Tak pernah lagi kudapati diri merayakan rindu.
Sejak saat senja diamdiam meninggalkan telaga. Usai kulemparkan semua kenangan usang padanya.
Terlalu banyak mozaikmozaik yang harus ia punguti.
Kau tahu?

Tak pernah lagi kudapati diri merawat luka.
Sejak saat hujan mulai berhenti menjejakkan ujungujung sepatunya yang runcing. Setelah air mataku meranggas dan kuhanyutkan pada alirnya.
Terlalu banyak duka yang harus ia buang pada lautan.
Kau tahu?

Dan, tak kudapati lagi diri menanti kicau burung pembawa pesan.
Sejak saat ia memilih hinggap dan berkicau di dahan yang lain.
Seperti kau yang telah menemukan telaga baru.

Cintamu. Luka itu.

Di Sudut Rak Berdebu


Kita hanya sepotong kisah kecil yang terjebak dalam lembarlembar usang buku di sudut rak penuh debu.
Rangkai kata tak lagi menarik untuk dieja. Atau sekedar dipandang.
Tak ada lagi alur cerita yang mampu menerbitkan mentari di sudut mata seperti dulu.

Barangkali segala sunyi cukuplah menjadi teman perbincangan yang tak mampu lebih sunyi lagi.

Kita samasama enggan mengabarkan cerita masingmasing, meskipun kita samasama tak yakin cerita itu pernah benarbenar ada.

Barangkali kita tak benarbenar saling berkisah. Tentang masa depanmu dan masa laluku.
Hingga gelap seakan bahagia kala takdir tak merelakan kita membuat jembatan di antara itu semua.

Kita kini tak lebih dari cerita yang terperangkap dalam usang buku dan koyak halaman.

Padang Tegal 2011

Tanpa Judul


@superdruva
Kita adalah dua helai daun yang samasama jatuh. Entah di batu cadas atau bening telaga.

@greenziezt
Kita adalah sepohon hijau yang tertanam pada bentang bumi, berdiri tegak dan menjatuhkan dedaun yang bercerita tentang kita dan cinta.

@superdruva
Kita adalah daun waru yang meranggas. Meninggalkan pohon kenangan.

@greenziezt
Yang terindah adalah mengenangmu. Pun rindu akan terus membisu dan berdiam di hati yang melulu terenyuh oleh caramu menghilang.

@superdruva
Ketahuilah, jika kepergianku adalah sebuah perputaran yang nantinya akan kembali padamu. Entah berupa petir atau pun hujan.

@greenziezt
Menderaslah, akan kurekatkan kedua tangan untuk menampung hujanmu, mungkin itu caramu menghiasi rindu.

@superdruva
Berteduhlah, mungkin rintikku yang runcing akan menghunjam tubuhmu. Menyakitimu.

@greenziezt
Tahukah kamu, aku dan luka sahabat dekat; hanya bersekat cinta dan rindu yang luar biasa.

@superdruva
Lalu dengan apa kau akan merindukanku? Dengan luka menyayat atau cinta yang hebat?

@greenziezt
Sayang, terluka olehmu adalah cara terhebat untuk mencintaimu.

@superdruva
Lalu: mencintaimu menjadi sesuatu yang tidak sederhana; merawat tiaptiap luka dengan ketabahan dan doadoa.

@greenziezt
Di tiaptiap luka ada doa yang bersemayam, meracaukan harapnya pada Dia Yang Maha. Hiduplah, untukku, untuk cinta, dan kita.

TwitLand 2011
*sebuah cengkrama kata bersama @greenziezt*

Ksatria Kecil


Hai, Ksatria Kecil!

Bagaimana rasanya terlahir ke dunia? Takutkah kau hingga tangis menjadi yang pertama keluar dari mulut mungilmu.

O Ksatria kecil, ketahuilah:

Jerit tangis pertamamu adalah gempita kebahagiaan atas jawaban doa-doa pada Tuhan.

Lalu, senyum mungilmu adalah harapan-harapan baru yang diretas pada tiap baitbait doa.

O Ksatria Kecil, meski tatapku belum melihat indah bola matamu. Namun kutahu indah bayang di dalamnya tercermin dari dekap tulus Ibumu kala dingin menyentuh tubuh mungilmu.
Ada kesediaan Ayahmu yang kan selalu berada di garis depan untuk melindungimu.

Jadi, janganlah takut menghadapi dunia yang baru saja kau lihat.
Yakinlah akan ada banyak indah yang kau dapat.

Jadilah Ksatria yang paling gagah dan bahagia.
Torehkan jejakjejak tawa gembira atau tangis haru.
Tuliskanlah cerita bahagia yang kau bawa dariNYA lewat buku buku kehidupan.
Dan tentu saja menjadi ksatria yang sesungguhnya untuk orangorang yang mencintaimu.

Selamat datang di dunia, Ksatria Kecil. :)

*sebuah catatan untuk kehidupan baru Sang Ksatria Kecil dari @alitmahendra dan @citz_angel*

Sebuah Perayaan Sunyi


Seperti matahari yang melarut di laut, aku ingin melarut di dadamu.

Aku tengah menyusuri bebutir pasir saat senja belum juga memerah. Dan sesekali kaki mungilku disaput oleh air laut. Sejenak, kupandangi air dan pasir. Pertemuaan antara mereka serupa perayaan kecil akan pertemuan sesaat. Lalu aku teringat padamu.

Harusnya kita juga merayakan sesuatu hari ini. Bersama. Di tempat yang sama pula. Sambil menikmati melarutnya matahari di cakrawala. Atau sekedar saling berpegang tangan dan membenamkan kaki kita dalam pasir.

O lelakiku, tak ingatkah kau jika aku sungguh ingin membingkai senyummu–saat terakhir kita bertemu di stasiun itu. Akan kubawa serta ia ke mana pun aku pergi. Hanya agar dapat merasakan bahwa kau ada bersamaku–ketika menikmati sebuah perayaan sendiri.

Kini semburat jingga telah tergambar apik di ujung sana. Lalu aku ingin pula melukis senyummu dari warna keemasan matahari–membawa kehangatan.

Seketika senja memerah saga. Ia pun berubah menjadi sejahat naga. Melenyapkan senyummu yang kugambarkan.

Nanar

Nanar kumenatap riuh warnawarni senja yang bergembira setelah meniadakan senyummu sekaligus gaduh di dadaku.

Yang kudengar kini hanya nyanyian ombak yang akan merayakan pertemuaannya dengan matahari.

Tinggal aku dan angin yang meniup-niup rambutku. Menyingkapkannya, dan berbisik bahwa kau tidak akan datang, dan disuruhnya aku pulang dengan dingin yang mulai membelai-belai.

Tapi, ah aku tak peduli. Aku akan tetap menantimu di perayaan ini. Bersamamu. Lalu; kulihat sebuah bintang mengerling padaku.

~Suatu sore di sebuah pantai~
~Selamat tanggal 17~