Tanpa Judul

@superdruva
Kita adalah dua helai daun yang samasama jatuh. Entah di batu cadas atau bening telaga.

@greenziezt
Kita adalah sepohon hijau yang tertanam pada bentang bumi, berdiri tegak dan menjatuhkan dedaun yang bercerita tentang kita dan cinta.

@superdruva
Kita adalah daun waru yang meranggas. Meninggalkan pohon kenangan.

@greenziezt
Yang terindah adalah mengenangmu. Pun rindu akan terus membisu dan berdiam di hati yang melulu terenyuh oleh caramu menghilang.

@superdruva
Ketahuilah, jika kepergianku adalah sebuah perputaran yang nantinya akan kembali padamu. Entah berupa petir atau pun hujan.

@greenziezt
Menderaslah, akan kurekatkan kedua tangan untuk menampung hujanmu, mungkin itu caramu menghiasi rindu.

@superdruva
Berteduhlah, mungkin rintikku yang runcing akan menghunjam tubuhmu. Menyakitimu.

@greenziezt
Tahukah kamu, aku dan luka sahabat dekat; hanya bersekat cinta dan rindu yang luar biasa.

@superdruva
Lalu dengan apa kau akan merindukanku? Dengan luka menyayat atau cinta yang hebat?

@greenziezt
Sayang, terluka olehmu adalah cara terhebat untuk mencintaimu.

@superdruva
Lalu: mencintaimu menjadi sesuatu yang tidak sederhana; merawat tiaptiap luka dengan ketabahan dan doadoa.

@greenziezt
Di tiaptiap luka ada doa yang bersemayam, meracaukan harapnya pada Dia Yang Maha. Hiduplah, untukku, untuk cinta, dan kita.

TwitLand 2011
*sebuah cengkrama kata bersama @greenziezt*

Ksatria Kecil

Hai, Ksatria Kecil!

Bagaimana rasanya terlahir ke dunia? Takutkah kau hingga tangis menjadi yang pertama keluar dari mulut mungilmu.

O Ksatria kecil, ketahuilah:

Jerit tangis pertamamu adalah gempita kebahagiaan atas jawaban doa-doa pada Tuhan.

Lalu, senyum mungilmu adalah harapan-harapan baru yang diretas pada tiap baitbait doa.

O Ksatria Kecil, meski tatapku belum melihat indah bola matamu. Namun kutahu indah bayang di dalamnya tercermin dari dekap tulus Ibumu kala dingin menyentuh tubuh mungilmu.
Ada kesediaan Ayahmu yang kan selalu berada di garis depan untuk melindungimu.

Jadi, janganlah takut menghadapi dunia yang baru saja kau lihat.
Yakinlah akan ada banyak indah yang kau dapat.

Jadilah Ksatria yang paling gagah dan bahagia.
Torehkan jejakjejak tawa gembira atau tangis haru.
Tuliskanlah cerita bahagia yang kau bawa dariNYA lewat buku buku kehidupan.
Dan tentu saja menjadi ksatria yang sesungguhnya untuk orangorang yang mencintaimu.

Selamat datang di dunia, Ksatria Kecil. :)

*sebuah catatan untuk kehidupan baru Sang Ksatria Kecil dari @alitmahendra dan @citz_angel*

Sebuah Perayaan Sunyi

Seperti matahari yang melarut di laut, aku ingin melarut di dadamu.

Aku tengah menyusuri bebutir pasir saat senja belum juga memerah. Dan sesekali kaki mungilku disaput oleh air laut. Sejenak, kupandangi air dan pasir. Pertemuaan antara mereka serupa perayaan kecil akan pertemuan sesaat. Lalu aku teringat padamu.

Harusnya kita juga merayakan sesuatu hari ini. Bersama. Di tempat yang sama pula. Sambil menikmati melarutnya matahari di cakrawala. Atau sekedar saling berpegang tangan dan membenamkan kaki kita dalam pasir.

O lelakiku, tak ingatkah kau jika aku sungguh ingin membingkai senyummu–saat terakhir kita bertemu di stasiun itu. Akan kubawa serta ia ke mana pun aku pergi. Hanya agar dapat merasakan bahwa kau ada bersamaku–ketika menikmati sebuah perayaan sendiri.

Kini semburat jingga telah tergambar apik di ujung sana. Lalu aku ingin pula melukis senyummu dari warna keemasan matahari–membawa kehangatan.

Seketika senja memerah saga. Ia pun berubah menjadi sejahat naga. Melenyapkan senyummu yang kugambarkan.

Nanar

Nanar kumenatap riuh warnawarni senja yang bergembira setelah meniadakan senyummu sekaligus gaduh di dadaku.

Yang kudengar kini hanya nyanyian ombak yang akan merayakan pertemuaannya dengan matahari.

Tinggal aku dan angin yang meniup-niup rambutku. Menyingkapkannya, dan berbisik bahwa kau tidak akan datang, dan disuruhnya aku pulang dengan dingin yang mulai membelai-belai.

Tapi, ah aku tak peduli. Aku akan tetap menantimu di perayaan ini. Bersamamu. Lalu; kulihat sebuah bintang mengerling padaku.

~Suatu sore di sebuah pantai~
~Selamat tanggal 17~

Kembalinya Si Empunya Blog

Dear Blog. . .

Setelah menuntaskan 30 hari menulis puisi dan (tidak menuntaskan) 30 hari menulis surat, blog ini dianggurkan seperti nasib
Starlight .
Ditambah lagi makin asik bermain di ranah Tumblr
:D

Setelah menimbang-nimbang, nampaknya aku harus mengaktifkan diri mengupdate blog tercinta ini. Dimulai dengan posting penuh cinta selanjutnya. *hening*