Sesuatu Setelah Hujan Turun

Kamu, perempuan yang seringkali menginginkan hujan turun di kotamu. Hujan yang sangat lebat jika kamu merasa kangen terlalu erat memeluk dadamu. Lalu, kamu akan berubah menjadi bocah riang yang ingin menghambur ke rintik-rintik air jatuh itu. membiarkan ujung-ujung runcingnya membasuh kepalamu; menginginkan segala pemberat di kepala ikut hanyut bersama alirnya.

Tak jarang mendung terlalu gelap bergelantungan di kotamu, namun hujan tak hendak juga turun di situ. Mungkin juga hujan turun, namun kau tidak suka dengan petir yang menyambar-nyambar yang membuatmu terpaksa hanya bisa memandangi hujan dari kamarmu.

Kamu begitu menikmati hujan, seperti kamu dan dia bersahabat sejak lama bahkan sebelum kamu dilahirkan. Hujan yang selalu kamu kira mampu menghapus segala penat di kepala, hujan yang kamu anggap sebagai sarana untukmu kembali pada seseorang.

Namun, kau telah melupakan suatu hal jika ada sesuatu yang bisa kamu temukan setelah hujan turun. Sebuah lengkung busur pelangi. Kamu sudah terlalu berkubang dalam mendung dan hujan yang dia bawa serta, hingga kamu tidak sadar ada pelangi yang telah menunggumu di ujung sana. Yang bahkan tak kau sadari sejak hujan berhenti.

Pic:

Suatu Kisah pada Tanggal 17

Kita tak akan pernah tahu, dari dada siapakah cinta akan pergi terlebih dahulu. Kau atau aku. Maka itu seringkali aku bertanya “apakah kau telah menemukan orang baru?” yang kepadanya kau bisa menyandarkan kepalamu, mengaitkan jemarimu di antara jemarinya tanpa perlu risau akan jarak. Lalu, dengan sedikit bergurau, kau akan menjawab “belum ada.” Ya. Sesingkat itu kau menjawabnya. Dan kembali kukatakan “jika telah kau temukan orang yang tepat, maka segeralah memberitahuku. Agar aku mulai belajar untuk mengajari hatiku merelakan. Sebab semua hanyalah masalah waktu.

Seperti pagi ini, aku terbangun dari mimpiku dengan mata basah. Di mimpiku, cinta telah pergi dari dadamu. Dan kenangan bersiap menghunus dadaku.

Aku tiba-tiba tersadar. Kita terbatasi jarak yang bukan sebatas kotaku dan kotamu, melainkan ruang mayamu yang sampai kini tak mampu kumengerti. Meski begitu, aku masih mencintaimu. Ya. Masih.

Maka, sebelum kau benar-benar pergi, ingin kutanyakan kembali, “apakah kau telah menemukan orang baru itu?”

Selamat tanggal 17. :’)

Tentang Perahu dan Keentahan di Laut Kita

/1/
Sesuatu telah menjadi debur di lautan tanpa nama. Mengombang-ambingkan
perahu kita yang dulu pernah tenang.

Sempat kita tatap pesisir di ufuk yang tak pernah dikenali. Sempat
pula kita baca petunjuk arah dari rasi-rasi yang sengaja membentuk
posisi yang tak pernah mampu dimengerti. Maka kupeluk dirimu. Di atas
perahu demi mencari tanda-tanda di mana keberartian mampu melabuhkan
kita.

Hanya angin yang sibuk berbisik menengahi peluk ataukah memang tiada
isyarat yang mampu kutangkap dari tubuhmu. Seakan mereka berlarian,
menjauhiku.

Sedang tak kurasa lenganmu yang pelangi. Yang biasa melengkung di
bibirku kala aku mengingatmu sambil menadahkan tangan di bawah
rintikan hujan. Hujan tanpa angin yang seperti kini. Menggoyangkan
perahu ke kanan kiri. Seolah menanti seorang di antara kita terjatuh
dan tenggelam. Dalam keasinan sunyi yang menggelombang—melumati
mabuknya asa.

Menunggu waktu menumbuhkan karangkarang hati. Mati diri pada kehampaan
tak berujung.

/2/
Selanjutnya rindu mana yang kelak akan menyambut? Kita di sini, di
atas perahu yang lahir dari rajutan bulu mata. Mengapung, dan hanyut
membawa kita jauh. Tiba pada hampa-hampa yang menceburkan dirinya.
Menjadi ombak baru yang mencipratkan heningnya di bajuku. Lalu basah.
Seperti matamu—dan juga mataku diam-diam.

Ataukah ombak yang ganas itu akan menghancurkan perahu kita. Kau dan
aku sama-sama digulungnya. Mendamparkan kita pada pantai yang
berlainan, tinggallah kita mencari jalan masing masing untuk bertahan
dengan saling menggenggam perih.

Tetiba aku menjadi nahkoda yang memimpin ke mana dayung menggerak
perahu untuk menghindar. Dan kau adalah layar yang mengembang lalu
terlepas dari tiangnya. Dan kembali, aku sendiri dengan kuntum rasa
yang sama kala perih itu kau lebamkan seutuhnya padaku. Kuteguklah
laut hingga sama kerontangku dengan dadaku. Dengan kesendirian.

Perahu kita kian menjauhi arah tujuan, sedang aku ingin menangkapmu
yang diterbangkan angin. Kudayung perahu koyak kita. Namun angin
terlalu beringas melarikanmu. Semakin jauh aku tertinggal. Perih kian
melebam di dada.

Sekoyaknya perahu, sekoyaknya waktu. Laut mendadak jernih dan
memantulkan wajahku. Ah, bukan aku yang kini. Namun yang lalu, yang
berada di dalam kenangan bersama angan—telah diterbangkan angin. Aku
membuyarkannya dengan mencelupkan tangan, merengkuh air laut dan
membasuhnya ke perih luka. Sementara dirimu kian mengecil di kejauhan.
Aku kian kerdil dalam sakit yang merendam luka. Melubang-lubangi duka.

/3/
Barangkali aku adalah manusia dengan segenap melankolia. Kehilangan
layar yang diterbangkan angin—kau, serta kemampuan membawamu kembali.
Sebab biru terlalu setia mendekap tiap luka di laut dadaku. Memaksaku
berhenti di detik ini dengan sisa asa yang mengapung apung di pelupuk.

Barangkali pula aku adalah pencinta dengan rindu yang karang. Kuat
namun tak pernah mau beranjak dan menangisi ketegarannya sendiri.
Selaik aku yang takkan pernah mau pergi dari sini. Dari perahu yang
sempat membawa rangkulan senyum di jari-jemarimu. Dulu.
Berilah aku isyarat barang setanda. Tentang ke mana arah angin
melarikan cinta—kau. Biar kita kembali berlayar, menebas cakrawala,
menuju pantai yang amat kita ingini. Dulu.

/4/
Mulailah kucatat ke mana wangi bibirmu lewat mematikan bau laut yang
bosan kuhirup. Menandai di ufuk mana ingatan tentangmu terbenam. Dan
menghidu desir hampa yang pernah sama-sama kita rasa. Memeriksa lubang
pada karang yang menyentuh ujung perahu. Mencari keberadaanmu yang
telah entah dengan sisa-sisa peta senyumanmu di lubuk mata. Mata yang
merah-memerih perah airnya.

Maka pada suatu pagi, aku amati setiap tanda. Di air, di karang, di
udara, mencuri dengar desau angin—yang melarikanmu. Berharap ada
isyarat yang mampu kutangkap sebelum angin kembali merampasnya.
Dan akan kautemui aku sebagai kanak yang mengeja waktu-waktu yang
telah mati. Yang lalu bereinkarnasi menjadi asa baru untuk kugapai.
Sebab kehilangan bukan alasan bagiku untuk mengukirkan nisan-nisan
atas segala rindu yang lebih ombak dari lautmu. Maka biarkan perahuku
terbawa menujumu. Menuju ketersesatan di dadamu. Menemu muara yang
kuidam. Tatap dalam kita yang lalu berpelukan.

/5/
Biarkan aku kembali menggemuruhkan palung dadamu, yang lebih dalam
dari laut manapun. Dan aku akan tetap menjadi nahkoda dengan kau
menjadi layar yang kan selalu terkembang, tanpa perlu risau
diterbangkan angin. Menuju pantai dengan ombak tenang, berpasir putih
serta nyiur yang meneduh.

Mari kita damparkan hati ke debar yang kita damba. Lalu menenggelamkan
perahu setibanya di sana. Menyangsi bahwa hari ada untuk kita huni
sendiri, membangunnya sendiri dengan kedipan-kedipan. Bicara tentang
rahasia yang tak perlu lagi kita hanyut dan sembunyikan lagi.

Malang – Surabaya 2011
Andi Wirambara – Nova Ridha A.

*Sebuah kolaboraSweet bersama Andi Wirambara
#KolaboraSweet

Ke dalam Matamu

: Andi Wirambara

Ke dalam pekat matamulah malam mengendap
menjadi sesuatu yang tak mampu digambarkan oleh waktu; terlalu lama ia menunggu
guguran bintangbintang itu.

Telah kau jadikan air mata sebagai pintu dan jendela
tempat kau melepas rindu
satu satu

Surabaya 2011

Kau Sebut Apa

: Bair

Kausebut apa gemuruh di laut dadamu
yang lebih menyerupai ombak bergulung-gulung; di keluasannya terdapat karang retak

Kau sebut apa
genang di pelupukmu
yang tampak seperti kolam; di kedalamannya terlalu banyak misteri tersimpan.

Kau sebut apa rasa kehilangan
yang di antaranya terselip sebuah keinginan; mendekap dia yang jauh dan tak terjangkau itu.

Itukah yang kau sebut cemburu?

Surabaya 2011

Jarak

: Mumu

Tak ada yang mampu difahami dari jarak dan guguran waktu.
Yang mengekalkan dingin angin yang sebentar singgah.

Tak ada yang mampu direkareka dari suara di ujung telepon.
Yang tibatiba mampu membungkam segala riuh menjadi bisu.
Merintikkan bening embun dari mata itu.

Surabaya 2011

Sebuah Usia

: DA

Di dinding itu kalender berpesta.
365 hari ia menunggu waktu mencatat genap usia; seperti katakata yang menanti kau sajakkan.

Di Juni ke dua puluh, telah kau torehkan segala riwayat pada sang waktu; yang barangkali lebih berharga dari sebuah hikayat.

Maka, tetaplah melaju, Kau; Sang Penyair.
Agar waktu tak berubah mengabu siasia dan sisakan hampa di ujung usia.

Surabaya 2011

*untuk seorang penyair

Monolog Embun dan Sesuatu yang Diintipnya di Balik Daun

/1/
Aku mengenalmu dari hening tempat pucuk-pucuk daun mengintip matahari, dan dahan menyala oleh keterbatasan–pun kerapuhan kala dipijaki burung-burung yang senandungkan kesunyian.
Dari tempatku, aku membaca gerakmu seperti penari berkostum hijau yang digerakkan angin. Sedang aku menunggu permainan waktu. Untukku menguap lesap dan tak bersisa atau menghempas cadas di bebatuan.
Lalu manakah dari lihatanku yang mendusta hening yang ada?

/2/
Aku mencoba membaca gerakmu perlahan, seperti kaki kumbang yang hendak mengukirkan senyuman di tanah basah. Seperti kenangan, seolah kerinduan. Sebab sebagai embun, tak ada lagi yang bisa kuberikan padamu selain sejuk tubuhku. Mungkin kau akan menyeka, mengusap, atau mungkin menegukku. Namun telah kurebah segala ingin, segala kelu dingin atas segala wangi pepucuk daun.
Aku menanti bagaimana kau memelukku. Yang embun ini.

/3/
Rupanya sisa mimpi masih kuat melekat. Meski dingin berkali-kali menampar. Kini kulihat kau sedang menari bersama kupu-kupu yang indah mengepak sayap. Lalu, di sini lahan disulap menjadi panggung romansa. Kau dan dia menari, biji-biji dandelion menjadi pengiring. Semesta kalian berpesta.
Jika bisa, aku ingin menjadi hujan, melubangi sayap kupu-kupu yang lentikkan senyuman. Tapi aku takut kian tak bisa merengkuhmu, kau akan berteduh di bawah sayap kupu yang menawarkan teduh. Dan aku ingin menyentuhmu saja, sesaat, lalu pecah. Menempias pada batu, pada tanah, tidak padamu. Semestaku pun hancur.

/4/
Jika saja kupu-kupu itu aku, dengan segala pesona mampu memunculkan simpul senyum di wajahmu. Sekalipun gigil pagi menyelimutimu. Tapi tidak! Aku tak mau jika harus bermetamorfosa menjadi ulat nantinya. Menggerogotimu perlahan, untuk mempertahankan diriku sendiri.
Maka kuberikan siluet keheningan di pantulan telaga yang muncul dari setitik air mataku. Ah, embun berairmata, bisakah kau bayangkan betapa beningnya itu?
Di beningnya terselip segala haru, berhimpit sesak, mengoyak jerih. Semua terangkum dalam diri rapuhku. Kau tahu?

/5/
Kini kurapalkan sesuatu untukmu. Pada salam sisi rerumputan, dan asa yang mengapung di muka telaga. Kukatakan aku akan tetap di sini. Sebagai embun terakhir yang akan menguap. Embun terakhir yang akan tetap membaca gerakmu perlahan-lahan. Embun yang mencintaimu diam-diam.
Sebelum akhirnya pecah dan menguap di udara.
Hingga bergeraklah awan-awan yang seolah didayungi oleh waktu yang menaungi harapan. Menuju siang paling sepi, senja paling repih dan malam yang paling kelu. Mengutuki ketabahan. Untuk menemuimu kembali pada pagi yang lain. Hingga aku dapat kembali memandangmu, merekam gerakmu, mendesahkan asa pada pagi yang gamang, lalu bernostalgia aku dengan kisah kita yang tak pernah ada.

Demikianlah suatu kecupan yang tak pernah kau tahu, di pipimu yang enggan dilekati setitikpun aku. Sebagai embun, sebagai tetesan kesunyian di pohonpohon rimbun.

***

Malang – Padang Tegal, 02 Juni 2011
Andi Wirambara – Nova Ridha A.

*sebuah kolaborasi saya bersama @baracoedaz * :)

Romansa Sepiring Mie di Atas Panggung Kedipan Mata

Sesuatu menjadi kelambu di panggung mata kita. Di atasnya, kita duduk berhadapan di sebuah meja bundar. Seperti bola matamu.
Sepiring mie instan kau seduh dari air mata hangatmu. “Ini bukan kesedihan, namun sebentuk rindu yang menggenang.” Senyumku membalas.
Sesuatu menggetarkan panggung kita. Meja kita. Perlahan merubah bentuknya menjadi sekoci dan sepiring mie kita masih utuh di situ. Telah lunak mie di piring kita itu. Kau mengambil garpu, aku mengambil serbet hati dan mengalungkannya di lehermu. “Agar kau tak kotor.”
Sekoci kita terombang-ambing. Pelan. “Tak ada laut di sini.” Katamu heran. “Itu rindu kita, yang mengombak lembut. Pun syahdu.
Sehelai mie kau angkat sambil menatapku. “Panjang, seperti milikmu.” Aku terkekeh. “Ini maksudmu?” Aku mencabuti bulu mataku.
Bulu mataku memanjang bak tongkat kera sakti yang melegenda ini. Ah,kisah kita akan lebih berhikayat, bukan?
Kau masih mengangkat mie itu. Bulu mataku berubah jadi syal. Kita mengambil ujungnya. Saling melilitkannya. “Kau siap untuk kusuap?”
Bulan muncul. Di sana sepasang bayang memantul. Sesendok–ah, segarpu–mie itu kau suapkan ke mulutku. Aku menyuapimu kehangatan.
Sekoci kita mendadak tenang, lalu hilang. “Apa rindumu hilang?” tanyamu. “Tidak, bukankah laut kadang suka menyimpan gelombangnya?” Sekoci kita memang hilang. Namun kita tidak tenggelam. Kita memijak panggung. Kita melihat diri. Ah, kita kembali ke matamu.
Sehentak nada mengalun di celah-celah telinga. Katamu mulai mengikuti nada. Masih dengan sepiring mie di kedua telapak tangan. “Apakah ada yang lebih indah daripada panggung matamu?” tanyaku. Kau menggeleng kembali menyuapiku segarpu mie dari piringmu itu. Kau menyiratkan kode dengan matamu. Memintaku untuk gantian menyuapimu.
“Sesendok mie, atau nadiku yang mendenyutimu tiap waktu?” godaku.
Kau memilih mie. “Aku tak mau nadimu. Sebab kau tak bisa bedakan mana nadimu, mana nadiku. Hati kita membuat simpul di antaranya.”
Mie itu tinggal sedikit, kau menggulungnya lembut seperti menggulung waktu yang sempat menjarak kita. Sebuah rindu membulat. Jadi telur.
Kita adalah romansa di atas panggung matamu. Aku masuk dengan setiket rindu. Kau menyambutku dengan sepiring mie. Sepiring senyuman.
Dan tak terasa mie itu telah habis. “Apa kisah kita pun habis?” tanyamu. Aku menggeleng. Mie itu berdiam di lambung. Lambung hati kita. Kita tak akan sakit. Yang kita makan akan menjadi sesuatu yang berbaur dalam darah. Serupa kenangan yang lekat di ingatan.
Piring telah kosong. Kita bertatapan dengan noda mie di sisi bibir. “Boleh kuseka?” tanyamu. Dan kau menyeka masa laluku.
Kita kembali ke panggung matamu. Sepiring rindu, seseka masa lalu. Kita berdansa di matamu. Di matamu.

Oleh: Andi Wirambara

*sebuah karya manis yang ditulis oleh BARA

**Terima kasih atas tulisan manis ini, partner pecinta mie :D

#KepadaA

@supernopha
Sudahkah kau baca pesan yang kutitipkan pada dedaun di dekat jendelamu?

@adysaurus
Pesan sederhana yang dibawakan pipit-pipit kecil yang selalu hinggap disitu, bernyanyi membangunkan pagimu. Bacalah pesan itu sebelum embun membasahkannya lalu pesanku tak dapat terbaca. Lalu balaslah, cepatlah balas pesan itu. Karena aku.. Aku telah menunggu begitu lama.

@supernopha
Tahukah kau jika menunggu balasmu teramat menjemukan? Hingga aku harus membunuh waktu terlebih dahulu.

@adysaurus
Namun waktu itu selalu menghantuiku, mengingatkanku pada batas-batas kita, garis yang memisahkan aku dan kamu. Batas yang pada akhirnya memberi jarak pandang mata kita. Lantas rindu kian meraja.

@supernopha
Karena itu lekaslah balas pesanku. pesan sederhana yang kutitipkan dalam dedaunan didekat jendelamu.

TwitLand 02 April 20011
*sebuah join galauAsik bersama dengan tagar #kepadaA*