Suatu Siang di Cheese Bury Kopitiam


Lama sekali rasanya saya tidak ke Malang. Meskipun ke sana hanya untuk sekedar mengopi atau makan sambil ngobrol ngalor ngidul dengan Pipoy. Ialah Cheese Bury, tempat yang saya tuju dengan Pipoy siang itu.

Bertempat di jalan yang tidak terlalu bising, membuat suasananya cukup mendukung bagi orang-orang yang memang datang untuk mengobrol. Pintu masuknya bernuansa Bali. Banyak detail ukiran. Ternyata tidak hanya sebatas pintu masuknya yang khas Bali, bagian dalamnya pun. Sejenak memang seperti tidak berada di Malang. :)

LOKASI 2
LOKASI 1
KAYU

Karena saya tidak begitu lapar saat itu, pilihan saya jatuh pada menu Lava Cake. Sedangkan untuk minumnya, saya lebih tertarik dengan Red Velvet Frappuccino.
MENU 4
Dari tampilannya di buku menu memang menggoda lidah untuk mencicipinya. Dan ternyata memang enak. Milky creamy di mulut. Hanya saja mungkin karena saat itu saya memadukannya dengan Lava Cake–yang mana fillingnya cokelat–jadilah rasa milky creamy keduanya terasa sekali.

Lava Cake

Lava Cake


Voila! Cokelat Lavanya

Voila! Cokelat Lavanya

Si Red Velvet Frappuccino

Si Red Velvet Frappuccino

Lain saya, lain pula dengan Pipoy. Dia memilih makanan yang sedikit lebih berat. Pasta.

Fettucini Cheesebury Bolognaise

Fettucini Cheesebury Bolognaise


Yup! Fettucini Cheesebury Bolognaise dan juga minuman yang saya sendiri lupa namanya. Hahaha.
Si Pasta

Si Pasta


Awalnya saya mengira menunya salah, tapi setelah dibuka taburan kejunya, memang betulan itu pasta yang dipesan. Kejunya melimpah ruah! Bagi yang doyan keju, sepertinya menu ini akan cocok sekali. :D
Yang sebelah kanan adalah minuman yang saya tidak tahu namanya :))

Yang sebelah kanan adalah minuman yang saya tidak tahu namanya :))

MENU 1 MENU 2 MENU 6 MENU 5

Logo Cheese Bury Kopitiam

Logo Cheese Bury Kopitiam

Secara keseluruhan, rasa makanan dan minumannya terasa pas di lidah saya. Dengan harga yang dibandrol tidak terlalu tinggi, namun menjamin rasa makanannya, saya kira tempat ini sangat bisa dijadikan referensi tempat nongkrong—-dan atau ngedate bersama pasangan—-berbagai kalangan usia.

Cheese Bury Kopitiam
Jl. Dr Sutomo 26 kav C1-C5 Malang
Telp: 0341-360312

Saya Menyebutnya Kenangan


Ada yang pernah berkata jika masa lalu tidak menjabarkan diri kita, akan tetapi masa lalu akan selalu menjadi bagian dari diri kita. Sesuatu yang akan melekat dalam diri kita; baik sekarang dan juga di masa yang akan datang. Entah bagian terburuk atau terbaik sekalipun.

memories

Banyak hal yang terjadi, kesalahan, kegagalan, dan seringkali saya merasa sakit meskipun tak jarang orang lain saya sakiti. Ketika mengingatnya, saya sedikit menyalahkan diri sendiri untuk orang-orang yang “pergi” dari kehidupan saya. Ada penyesalan. Padahal, bisa jadi hal itu bukan murni kesalahan saya, melainkan karena memang sudah waktunya untuk mereka “pergi” dan “datang” pada kehidupan orang lainnya. Lambat laun saya mempercayai proses itu.

Untuk hal-hal yang telah terjadi tersebut, saya tidak seharusnya terus merenunginya. Berandai-andai jika saja saya bisa kembali memutar waktu dan memperbaiki apa-apa yang ada di masa lalu, toh semuanya sudah terjadi dan sudah berhenti. Tetapi bukankah hidup harus tetap berjalan. Meskipun butuh waktu untuk saya belajar dan berproses atas yang telah saya lakukan sebelumnya. Bisa berbulan-bulan, bahkan tahunan. Saya terus mencoba berdamai. Menerima apa yang sudah seharusnya.

Dan pada akhirnya, kenanganlah yang membentuk saya sekarang. Pembelajaran dari yang baik maupun yang buruk. Dari orang-orang yang menyayangi dan menyakiti kita di waktu yang lalu. Cukup sebagai sarana berproses. Tanpa perlu melupakannya. Karena hal tersebut akan tetap bersama saya sampai beberapa tahun kedepan.

Gambar dari: vi.sualize.uz

Sebuah Catatan Dini Hari


gambar

Akhir-akhir ini saya gemar sekali mengamati lingkungan sekitar dengan segala ragam di dalamnya. Termasuk sikap orang-orang di sekitar saya.

Beberapa waktu lalu, saya dibuat terkejut dengan sikap salah seorang yang saya kenal. Sebut saja A. Yang sebelumnya dia saya anggap orang yang santai dan suka bercanda, ternyata menyimpan kemampuan meluapkan amarah sedemikian rupa. Sesuatu yang menurut saya terlalu berlebihan untuk ditampakkan di depan orang banyak.

Sebelumnya, saya berpikir bahwa setiap orang memang punya karakter sendiri-sendiri. Namun makin ke sini, saya rasa apa yang dia lakukan sedikit tidak wajar. Saya sempat memperhatikan teman saya ini ketika bercanda. Sesuatu yang awalnya menyenangkan berubah menjadi amarah hanya karena dia merasa ditertawakan. Padahal bukan dia objeknya. Dia marah. Membentak-bentak. Dia menjadi orang yang menakutkan. Suasana hatinya berubah drastis. Yang sebelumnya gembira menjadi uring-uringan.

Saya dan teman-teman sempat mendiamkan hal ini, dan kemudian mungkin tersadar, Si A ini meminta maaf. Bahwa kemarahannya tidaklah disengaja. Saya rasa bukan begitu harusnya. Bukan begitu.

Satu hal yang tidak dia ketahui, bahwa: ketika dia sedang menyebalkan uring-uringan/moody, jangan pernah menyakiti orang lain lewat sikap maupun perkataan. Karena mereka tidak pernah tahu apa yang sedang terjadi di dalam dirinya. Dan teman-temannya bukanlah para ahli pembaca pikiran, yang senantiasa selalu tahu apa yang dia inginkan.

*dituliskan ketika menyadari ada beberapa orang yang kadar ingin dimengertinya terlalu tinggi, dan sekitarnya tidak mempunyai kemampuan untuk itu*

Gambar dari: vi.sualize.uz

Solo Trip #2: Kelimutu, Akhirnya!


Perjalanan pertama yang saya lakukan pada hari kedua di Ende adalah menuju ke Kelimutu. Menurut Encim, tidak bisa disebut ke Flores tanpa mengunjungi danau yang dulu sempat ada di mata uang pecahan 5000 itu.Mulanya saya berencana untuk menikmati matahari terbit namun faktor tubuh yang sudah lelah membuat saya tertidur pulas dan bangun terlambat, hasilnya saya mau tidak mau baru berangkat sekitar pukul 05.45 dengan diantar ojek langganan Encim yang bernama Neldis.

Kegiatan di pasar tradisional sudah mulai terlihat meskipun pagi itu terasa begitu dingin.

Pasar Tradisional

Pasar Tradisional


Matahari Terbit Sewaktu Menuju Kelimutu

Matahari Terbit Sewaktu Dalam Perjalanan

Perjalanan menuju Kelimutu cukup jauh. Jika benar-benar ingin melihat matahari terbit dan tidak ingin terlalu lelah di perjalanan, menginap di Moni (perkampungan terdekat dengan Kelimutu) bisa menjadi alternatif pilihan. Di sana tersedia banyak penginapan. Karena untuk menuju ke sana diperlukan kurang lebih 2 jam dengan kondisi jalanan berkelok. Semua itu tidak akan terasa kalau mata disuguhi dengan pemandangan hijau pepohonan serta persawahan yang dikelola warga setempat.

Persawahan menuju Kelimutu

Persawahan menuju Kelimutu

Setelah sekian puluh menit berkendara motor, pukul 8 kami (saya dan Neldis) sampai di pos penjagaan Taman Nasional Kelimutu yang sekaligus menjadi loket pembayaran untuk memasuki kawasan tersebut. Dua orang dan 1 motor hanya dikenakan 8000 rupiah. Amat sangat terjangkau.

Gerbang Menuju Kelimutu

Gerbang Menuju Kelimutu


Dari pos penjagaan, kami masih harus menempuh perjalanan untuk menuju danau. Di sepanjang jalan, banyak ditemui wisatawan yang berjalan kaki untuk menuju ke sana. Setelah sampai di area parkir, kami segera mendaki ke arah danau. Tenang saja, jalur pendakiannya tidak begitu susah. Sudah tersedia jalan setapak serta anak tangga sehingga tidak diperlukan tenaga ekstra. Rupanya sudah banyak orang yang turun dari atas danau.
Tampak Dari Bawah

Tampak Dari Bawah


Sekilas dari kejauhan

Sekilas dari kejauhan


Mendaki ratusan anak tangga

Mendaki ratusan anak tangga

Bila diperhatikan, beberapa orang yang mendaki menghitung jumlah anak tangganya. Entah dengan tujuan apa. Biar capek menaikinya tidak terasa mungkin. Karena ternyata cukup bikin kaki nyut-nyut. Hahaha. Tapi semua itu terbayarkan begitu sudah sampai di puncaknya. Rasanya ingin melompat saking senangnya melihat keindahan dan ketenangan sekitar danau. Ternyata di situ banyak monyet berkeliaran. Mereka tampaknya tidak terasa terganggu oleh kehadiran para wisatawan.

Monyet-monyet

Monyet-monyet

Beruntungnya saya bisa melihat keindahan danau hari itu, sebab beberapa waktu lalu Taman Nasional Kelimutu sempat ditutup untuk umum dikarenakan aktifitasnya yang mengalami peningkatan. Bahkan kabarnya salah satu kawah mengalami
perubahan warna.

Tiwu Nuwa Muri Koo Fai

Tiwu Nuwa Muri Koo Fai


Tiwu Ata Polo

Tiwu Ata Polo


Tiwu Ata Mbupu

Tiwu Ata Mbupu

Ada untungnya saya datang agak siang karena menurut penjaga setempat suasana ketika matahari terbit ramai sekali. Sedangkan saat itu (sekitar pukul 8 lewat), suasana lumayan sepi sehingga bisa menikmati ketenangan danau. Sepertinya ingin berlama-lama di atas sana.

View Point

View Point


Latar Belakang Danau

Latar Belakang Danau

*Dilanjut lagi pada postingan berikutnya