Europe on Screen 2013 Surabaya


Yeay! 4 film selama 2 hari telah selesai dipertontonkan di Institut Francais Indonesia (IFI) Surabaya. Antusiame penonton terlihat dari penuhnya kursi yang disediakan oleh panitia. Bahkan disediakan bangku tambahan untuk penonton yang tidak mendapat jatah kursi.

Film-film yang diputar di IFI hanyalah 4 judul. Memang tak sebanyak kota lain apalagi Jakarta.
Antara lain:

image

Nicky's Family

image

Christmas Tango

image

image

You Never Walk Alone

Bagi saya yang baru pertama mengikuti rangkaian pemutaran film di Europe on Screen, sangat menarik! Mengingat jarang sekali bahkan sulit untuk bisa menonton film-film Eropa yang memang tidak diputar di bioskop dalam negeri. Untuk tahun depan semoga lebih banyak film yang diputar di Surabaya. :)

The charm of a rustic travelling carnival

Reblogged from anggara mahendra:

Click to visit the original post
  • Click to visit the original post
  • Click to visit the original post
  • Click to visit the original post
  • Click to visit the original post
  • Click to visit the original post
  • Click to visit the original post
  • Click to visit the original post

Its Ferris wheel and carousel look rustic with faded colors and peeled paint. The ball pit’s condition is a far cry from the one city dwellers usually see at similar facilities in Denpasar’s shiniest supermarkets. And the whole carnival is set on a plot of vacant land where the ground would get muddy after even a light shower of rain. These days, torrential rain hits the area on a daily basis.

Read more… 236 more words

Tanjung Papuma: Pesona Pantai dan Batuan Karang


Beberapa saat lalu, saya kembali ingin solo plesiran. Pantai masih menjadi destinasi utama. Hingga kemudian saya memutuskan untuk mengunjungi salah satu pantai yang berada di kota Jember. Sebutlah tempat itu dengan “Tanjung Papuma”.

Tanjung Papuma adalah obyek wisata pantai yang terletak di Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, Jember.

***

Pukul 15.34 saya berangkat dengan menggunakan bus patas menuju Jember. Walaupun sebenarnya bisa langsung menggunakan bus jurusan Ambulu. Namun karena saat itu bus tersebut sedang kosong, jadilah saya memilih Patas. Perjalan Surabaya – Jember diperkirakan memakan waktu sekitar kurang lebih 5 jam jika tidak macet. Dan benar saja, saya sampai di terminal Tawang Alun jam 08.40. Sesampainya di sana, saya berniat menaiki ojek untuk ke penginapan terdekat. Mata dan tubuh sudah tidak lagi bisa menahan lelah juga kantuk. Lalu, seorang teman menawarkan untuk menjemput dan menyediakan tempat peristirahatan di rumahnya. Saya mengiyakan.

***

Sekitar pukul 09.00 pagi saya memulai perjalanan dengan menaiki angkot menuju terminal Ajung untuk kemudian berganti angkutan lagi menuju Ambulu. Karena memang sarana transportasi menuju Papuma sangat minim sekali, saya terpaksa harus menunggu hingga 30 menit di Ajung. Sebuah colt tua pun menjadi sarana transportasi saya menuju ke Ambulu.

1 jam kemudian, sampailah saya di Ambulu. Menurut teman saya, untuk ke Tanjung Papuma, berarti saya harus menggunakan ojek. Setelah tawar menawar harga dengan si tukang ojek, saya pun segera menuju ke lokasi. Jangan lupa untuk janjian dengan tukang ojek yang mengantar untuk nanti menjemput kembali. Minta saja nomor ponselnya, karena di Papuma tidak ada ojek yang membawa kembali ke Ambulu.

Sepanjang perjalanan, saya disuguhi pemandangan pabrik-pabrik yang mengolah tembakau. Pantas saja jika saya beberapa kali melihat ladang-ladang tembakau di pinggiran jalan.

image

Salah satu pabrik tembakau

image

Ladang tembakau

Saya disambut dengan plakat besar yang bertuliskan “Selamat Datang di Wahana Rekreasi Alam Tanjung Papuma”.
image

Sudah sampai? Belum! Masih ada beberapa puluh menit lagi untuk sampai di pantainya. Mata saya kemudian dibuat takjub oleh pemandangan yang menyambut di sepanjang jalur menuju pintu masuk lokasi. Hutan dengan pepohonan meranggas berjejer. Jalan lengang dengan beberapa ladang hijau.

image

Pohon

image

Pohon meranggas

image

Pintu masuk

Untuk masuk ke area pantai Tanjung Papuma, setiap orang dikenakan biaya Rp7.000,-. Katanya jika hari biasa, bisa lebih murah. Jalanan yang sedikit rusak dan berkelok membuat beberapa kendaraan kesusahan melalui jalur ini. Bahkan beberapa truk mengalami mogok, dan itu menghambat pengguna jalan yang lainnya.

Setelah menempuh perjalanan begitu lama, dan inilah Papuma.
image

Iseng-iseng saya tanyakan ke salah satu petugas pantai, nama Papuma ternyata akronim dari Pasir Putih Malikan, dan Malikan adalah nama yang diberikan oleh pihak Perhutani untuk pantai ini yang berarti batu-batuan pipih. Selain itu, di Papuma juga bisa kita jumpai batu karang yang tingginya bisa berpuluh-puluh meter.
Ombak di sini cukup besar, namun masih aman jika ingin bermain atau berenang.

image
image

image
image

image

Siang itu suasana pantai cukup ramai, mungkin karena bertepatan dengan hari Minggu. Karena menurut informasi yang saya dapat, pada hari-hari biasa pantai Papuma sepi pengunjung.
Di lokasi wisata ini sebenarnya tersedia beberapa penginapan yang disewakan bagi pengunjung yang ingin bermalam di sini. Kisaran harganya antara 300-400 ribu rupiah.
Untuk makanan, tidak perlu khawatir. Sebab di sini sudah terdapat banyak tempat makan yang menyajikan bebagai macam olahan ikan segar yang didapat dari hasil tangkapan nelayan setempat.
Dengan harga 50-60 ribu, saya sudah bisa menikmati hidangan ikan bakar lengkap dengan nasi serta minumnya.

image

Nelayan yang baru kembali

***

Setelah hampir 3 jam bermain di pantai, saya tertarik untuk naik ke atas bukit menuju ke pos. Katanya pemandangan dari atas lebih indah. Dengan menaiki bukit, saya juga bisa menjumpai kera yang duduk-duduk di ranting pepohonan. Mereka tampak sudah biasa dengan kehadiran manusia di pantai ini. Asal tidak diganggu saja.

image

Kera

Saya meneruskan untuk menaiki tangga ke atas bukit, dan saya disambut dengan pemandangan seperti ini.
image

image[/caption]

image

Tangga untuk ke pos atas

Hari sudah semakin sore. Memaksa saya untuk segera mengakhiri kunjungan saya ke Tanjung Papuma dan harus segera kembali ke Surabaya. Padahal, katanya matahari tenggelam di sini bagus.

Bagi yang ingin menikmati pantai dengan pemandangan yang wow, dan tidak mau terlalu jauh ke Bali, Tanjung Papuma bisa menjadi pilihan wisata.

[31.12.2012;11:48]

***

Catatan:
Bus Surabaya – Jember : Rp42.000
Angkot Tawang Alun – Ajung : Rp3.000
Angkot Ajung – Ambulu : Rp6.000
Ojek Ambulu – Papuma : Rp25.000
Tiket masuk : Rp7.000

Semacam Kilas Balik 2012


Awal tahun 2012 dimulai dengan cerita yang penuh haru. Melihat ibu yang terbaring dengan berbagai peralatan medis dipasang di tubuhnya, hingga napas terakhir dihembuskan. Dan barikutnya menjadi tahun pertama hidup sendiri.
Kemudian, ditambah dengan status yang berubah menjadi ‘tanpa pacar’ pada bulan yang sama pula. Januari. Sungguh kombinasi yang ‘sempurna’ untuk menyerah. Tapi tidak, untungnya yang terjadi justru sebaliknya. Tak ada niatan berhenti atau bahkan mundur selangkah. Semua berkat orang-orang sekitar yang menyemangati–bukan Mario Teguh-terus. Hingga saya berada pada fase yang sekarang.

***

Januari juga berarti memulai sesuatu dengan baru. Salah satunya tempat kerja. Memang, ini sangat jauh berbeda dengan pekerjaan sebelumnya yang lebih sering berteman dengan pisau, chiller, dan beberapa alat dapur. Saya harus membiasakan diri duduk di belakang layar, mengurusi hal-hal yang sebenarnya saya tidak mengerti. Pembelajaran beberapa bulan menjadikan saya lebih bisa mengendalikan semua tugas-tugas saya sampai saat ini.

***

Setelah berbagai kesedihan pada awal bulan, selanjutnya saya seakan selalu punya kesempatan berbahagia dengan segala sesuatu yang menyenangkan. Menikmati ‘kelahiran’ baru saya.

SEMACAM PLESIRAN

Dimulai dari mengikuti kelas menulis yang diadakan oleh Sastra Madiun pada bulan Februari. Bertemu dengan orang-orang baru, diskusi, dan berbagi bersama beberapa penulis kenamaan.

image

Di Madiun

Bulan berikutnya saya kembali ikut acara di luar kota. Tepatnya di Jogja. Sebuah acara yang diadakan oleh teman-teman sana dengan tema “Guyub Desa” yang berlokasi di desa Gabugan, Sleman, Jogjakarta. Letaknya di bawah kaki gunung Merapi, yang merupakan desa wisata serta dekat dengan Agro Wisata Salak. Di sana, menginap di rumah-rumah warga setempat yang memang difungsikan untuk homestay.
image

Pertengahan tahun, saya akhirnya berkesempatan mengunjungi Solo. Setelah sekian lama hanya bisa melewatinya tanpa singgah. Dengan diteman beberapa teman di Solo, saya menyempatkan diri berkeliling kota dan beberapa obyek wisata. Serta menikmati kuliner khas Solo.
image

Nah, puncaknya ialah plesiran saya ke Maluku. Sebentar memang di sana, dan rasanya sangat kurang puas menjelajahinya. Dan akan berniat ke sana lagi suatu saat nanti.
image

Plesiran terakhir ialah ke Tanjung Papuma, Jember. Menikmati keindahan pantai serta batuan karang dengan berbagai macam ukuran.
image

MENONTON GIGS

Awal tahun sudah disambut dengan gig ERK di sebuah universitas Surabaya. Sebuah gig yang untuk ke lokasinya perlu perjuangan. Berteduh dari hujan angin, dikeroyok semut dan kecoa di tempat berteduh, hingga harus menyaksikan romantisme beberapa pasangan di bawah payung yang melindungi mereka dari gerimis. Hahahaha.
Meskipun ERK tampil dengan formasi tidak lengkap, namun penampilan mereka saat itu sangat memukau. Membuat lokasi mendadak jadi tempat karaoke berjamaah. Semua ikut menyanyikan semua lagu yang mereka bawakan saat itu.
image

Dua kali menonton Tompi dalam setahun. Pertama sampai harus ke Malang, dalam sebuah acara yang diselenggarakan universitas setempat. Kedua, dalam Urban Jazz Crossover bersama beberapa penyanyi dan musisi Jazz lainnya seperti Barry Likumahuwa, Harvey Malaiholo, Andien, Rieka Roslan, dll.

image

Penampilan Tompi di Malang


image

Urban Jazz Crossover

Menonton L’alphalpha, Pornikebana, serta Stars and Rabbit dalam panggung yang sama di Sunday Market Surabaya itu seru!
image

Dan penutup tahun yang oke oleh gig Adhitia Sofyan. Menjadi istimewa karena sempat mengobrol di warung makan serta foto dan dapat bonus tanda tangan setelah perjuangan untuk.ketemu. :) )
image
image

Eh bahkan bertemu drummer-nya The Trees and The Wild, Inu di lolasi yang sama. :)
image

Setelah melewati 2012 dengan berbagai cerita sedih hingga paling bahagia, semoga 2013 membawa banyak warna lagi. Terima kasih pada semua yang membantu saya berproses setahun ini. :D

[31.12.12; 00:49]

*beberapa foto koleksi pribadi
**foto Guyub Desa koleksi Ade Julizar dan Asakecil
***foto Maluku koleksi Indam

Duakosong Duabelas Duakosongduabelas


Duakosong duabelas duakosongduabelas. Saya yang bangun lebih pagi setelah melewati malam jahanam di tempat kerja.

Duakosong duabelas duakosongduabelas. Siang yang tak lagi sama. Kembali bisa menikmati jajanan yang membuat senyum saya naik level.

Duakosong duabelas duakosongduabelas. Sore dengan mendung tanpa hujan. Secangkir kopi dingin serta krim di atasnya. Lalu sesuatu berlarian dalam kepala.

Duakosong duabelas duakosongduabelas. Malam dan menunggu kembali saya perankan. Sebuah tulisan seseorang tentang ibunya yang membuat mata basah. Adegan ditelepon ibu untuk sekedar mengingingatkan anaknya sedang dimainkan dalam kepala saya.

Duakosong duabelas duakosongduabelas. Bulan berpindah ke dalam secangkir kopi yang masih panas. Kecemasan yang berlebih, tawa yang lepas atau dibuat-buat. Orang-orang yang ramai membicarakan ramalan kiamat esok hari. Entahlah.

Duakosong duabelas duakosongduabelas. Angkot penuh sesak, wajah-wajah kelelahan. Tujuan yang sama: rumah.

Duakosong duabelas duakosongduabelas. Teringat batas waktu yang tinggal 4 hari lagi dan saya yang belum memulai apapun.

Duakosong duabelas duakosongduabelas. Waktu yang terus berjalan, dan konon akan berlari jika sedang bersama orang yang disayangi.

Duakosong duabelas duakosongduabelas. Saya yang sangat merindukan rumah.

[20.12.2012; 23:45]

Sebuah Catatan Perjalanan


Tidak ada rencana pasti hari itu akan pergi ke mana sesampainya di Malang. Segala sesuatunya berlangsung sesuai kondisi saat itu. Termasuk ketika seorang teman mengajak saya untuk singgah di sebuah tempat makan yang belum pernah saya kunjungi.

Di situ, kami berbagi banyak hal. Termasuk berbagi tawa atas beberapa kebodohan yang pernah kami lakukan. Haha

image

Pot pot yang dipajang di bagian teras

***

Nama tempat itu adalah “Noodle Inc.”

image

Noodle Inc


image

Tempat makan bergaya warehouse ini terdiri atas dua lantai. Di lantai bawah, saya merasakan sekali gaya “gudang”-nya. Namun masih tetap nyaman dijadikan tempat makan sekaligus tongkrongan.
image
image

Kami memilih untuk naik ke lantai atas. Dan kami langsung disambut dengan sepeda kayuh yang dipajang di dinding tepat di atas tangga.
image

Akan lebih asik jika memilih tempat duduk di bagian luar ruangan. Selain pandangan langsung tertuju pada jalanan, sudutnya juga nyaman. Berbincang bersama teman akan terasa jauh lebih seru.

image

Bagian luar

Berhubung di bagian luar sudah penuh, kami cukup di bagian dalam saja. :)

image

Bagian dalam

Mengingat sudah mendekati Natal, tempat ini pun dihiasi berbagai ornamen natal. Seperti yang terlihat di atas.

***

Dari namanya, sudah jelas sekali bahwa tempat ini menawarkan menu “Mie dan Dimsum”. Beberapa olahan mie mulai dari yang berkuah dan non kuah. Pilihan untuk dimsum-nya pun cukup banyak–meskipun tidak begitu banyak menu favorit saya–dan lumayan menggiurkan.

image
Sushi Crab dan Hakau Udang menjadi pilihan kami saat itu. Ditemani hot dark chocolate–yang dipilih Pipo–serta saya yang lebih menyukai cold dark chocolate. Kurang lengkap jika ke sini kalau tidak mencoba menu mie. Dan mie tarik ayam menjadi pilihan saya. Dengan kuah segar dan pedas–tersedia juga pilihan tidak pedas–mampu membuat mata melek. Mie-nya lembut serta disajikan lengkap dengan sayuran serta potongan daging ayam. Untuk ukuran tempat makan sejenis ini, harga yang mereka tawarkan relatif terjangkau. Tak heran jika tempat ini ramai pelanggan.

image
image

Untuk pelayanan ehem tidak terlalu mengecewakan, tak perlu menunggu lama pesanan diantarkan. Bagi yang menginginkan tempat makan dengan suasana berbeda, di sinilah tempatnya.

image

Selintas

[18.12.12; 02:55]

*Noodle Inc. terletak di Jl. Soekarno Hatta DR 1-2 Malang. Jam buka 11.00-24.00

**terima kasih pada Pipo yang sudah mengenalkan saya dengan tempat ini.

Pada Suatu Waktu


image

Apa yang kamu ketahui tentang bagaimana kamu menempatkan kegembiraan, semangat, dan kecemasan dalam satu waktu sekaligus?

Apa yang kamu ketahui tentang jalanan basah seusai hujan dan secangkir kopi yang membuat seseorang tak pernah merasa bosan berada dalam kondisi tertentu?

Apa yang kamu ketahui tentang kegembiraan saat bertemu atau bahkan kekecewaan atas sesuatu yang tak pernah muncul?

Apa yang kamu ketahui tentang menunggu?

[16.12.12; 16.50]

2 Tahun Bersama


image

Notifikasi

Pagi tadi saya tertarik untuk membuka notifikasi blog. Kemudian pandangan saya tertuju pada tulisan “Happy Anniversary with WordPress.com!“. Ini rasanya seperti punya pacar tapi dalam bentuk virtual. Haha

Saya sendiri tidak sadar jika kebersamaan saya dengan blog baru ini telah berlangsung selama 2 tahun. Tepatnya 5 Desember lalu.Kalau disamakan dengan pacaran, mungkin saya dan blog ini telah mencapai tahap lanjutan.

Berawal dari mengikuti #30HariMenulisPuisi, saya mengkhususkan untuk membuat blog tersendiri selain blog yang saya miliki sebelumnya. Lama kelamaan, saya lebih nyaman jika harus menulis di sini. Akan tetapi, layaknya sebuah hubungan, ada kalanya saya begitu semangat menulis, dan tak jarang pula mengabaikan blog sampai seminggu, hingga berbulan-bulan.

Baiklah, selagi masih bulan perayaan ultah blog ini, saya akan rutin postingmungkin. Paling tidak sebagai pertanda jika saya masih betah di ‘rumah’ yang sekarang. :p

Selamat 2 tahunan

[10.12.12; 12:35]